{"id":44835,"date":"2026-07-25T10:58:52","date_gmt":"2026-07-25T03:58:52","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/?p=44835"},"modified":"2026-07-25T11:16:38","modified_gmt":"2026-07-25T04:16:38","slug":"program-doktor-ilmu-komunikasi-universitas-sahid-dorong-strategi-baru-untuk-perkuat-pariwisata-indonesia-di-tengah-tekanan-ekonomi-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/berita\/program-doktor-ilmu-komunikasi-universitas-sahid-dorong-strategi-baru-untuk-perkuat-pariwisata-indonesia-di-tengah-tekanan-ekonomi-global\/","title":{"rendered":"Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Dorong Strategi Baru untuk Perkuat Pariwisata Indonesia di Tengah Tekanan Ekonomi Global"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA, ITN<\/strong> \u2013 Program Doktor Ilmu Komunikasi Angkatan Ke-35 (DIK-35), Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, menggelar Seminar Internasional bertajuk \u201cProspects of the Tourism Industry Amid Economic Challenges\u201d pada Jumat di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (24\/7\/2026).<\/p>\n<p>Seminar ini mempertemukan pembuat kebijakan, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas berbagai strategi guna memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di tengah tekanan ekonomi global yang memengaruhi sektor ini.<\/p>\n<p>Industri pariwisata merupakan salah satu sektor strategis yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui penciptaan devisa, lapangan kerja, serta penguatan UMKM. Namun, sektor ini kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga energi global, meningkatnya harga bahan bakar pesawat, hingga naiknya biaya perjalanan yang berdampak pada wisatawan maupun pelaku usaha pariwisata.<\/p>\n<p>Di tengah kondisi tersebut, dibutuhkan sinergi lintas sektor agar industri pariwisata tetap mampu tumbuh secara berkelanjutan sekaligus mempertahankan daya saing Indonesia sebagai destinasi wisata dunia.<\/p>\n<p>&#8220;Pariwisata tidak hanya berbicara mengenai destinasi wisata atau aktivitas ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana membangun kepercayaan, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan nilai bersama bagi masyarakat,&#8221; ujar Dr. Prasetya Yoga Santoso, Kepala Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi, Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid.<\/p>\n<p>Menurut Dr Prasetya Yoga, komunikasi yang efektif menjadi kunci untuk menyelaraskan kepentingan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan mitra internasional agar setiap kebijakan dan kolaborasi yang dibangun mampu memberikan manfaat nyata bagi pengembangan pariwisata Indonesia.<\/p>\n<p>&#8220;Seminar ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif, mulai dari pemerintah, pelaku industri, asosiasi, akademisi, hingga mitra internasional. Kami berharap forum ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi mampu menghasilkan rekomendasi yang implementatif sekaligus mendorong lahirnya kolaborasi baru untuk memperkuat ketahanan dan daya saing industri pariwisata Indonesia,&#8221; ungkap Dyah Hestu Lestari, Ketua Panitia Seminar Internasional DIK-35 Universitas Sahid.<\/p>\n<p>Melalui seminar ini, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sahid menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan forum akademik yang mampu menjembatani dialog antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan mitra internasional dalam merumuskan solusi atas berbagai isu strategis nasional.<\/p>\n<p>Rekomendasi yang dihasilkan dari seminar ini akan menjadi masukan bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam memperkuat daya saing serta keberlanjutan industri pariwisata Indonesia.<\/p>\n<p>Seminar menghadirkan Dr. Hj. Kurniasih Mufidayati, M.Si., Wakil Ketua Komisi X DPR RI, sebagai keynote speaker. Diskusi panel turut menghadirkan Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si., Penasihat Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal; Ahmad Fajar, Direktur Utama Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC); Pauline Suharno, Ketua Umum ASTINDO; serta Herman Courbois, General Manager, Hotel Grand Sahid Jaya. Para narasumber membahas berbagai isu strategis, mulai dari pengembangan desa wisata, diversifikasi pasar, investasi, perlindungan konsumen, hingga penguatan sektor pariwisata Indonesia.<\/p>\n<p>Pada kesempatan tersebut Direktur Utama Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Ahmad Fajar mengatakan, pengembangan destinasi wisata harus dilakukan melalui pembangunan ekosistem yang terintegrasi, bukan sekadar membangun hotel atau objek wisata.<\/p>\n<p>Menurutnya, destinasi perlu dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, mulai dari akomodasi bagi pekerja, kawasan komersial, lapangan golf, hingga resor premium yang mampu menarik wisatawan dengan daya beli tinggi.\u200e<\/p>\n<p>&#8220;Untuk itu, kami ingin membangun sebuah ekosistem destinasi sehingga wisatawan memperoleh pengalaman yang lengkap ketika berkunjung, Contohnya, pengembangan kawasan The Mandalika yang diarahkan menjadi destinasi wisata terpadu dengan berbagai fasilitas pendukung untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi di kawasan tersebut,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sementaa, Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO), Pauline Suharno, mengatakan, \u201cTren wisata global telah bergeser. Wisatawan, khususnya generasi muda, kini lebih mengutamakan pengalaman atau experience dibanding sekadar menikmati atraksi maupun berfoto di destinasi wisata\u201d.\u200e<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Yang dicari sekarang bukan hanya atraksi, tetapi bagaimana pengalaman yang mereka rasakan selama perjalanan. Itu yang nantinya akan mereka bagikan di media sosial. Perubahan perilaku wisatawan juga diikuti meningkatnya kepedulian terhadap isu lingkungan. Wisatawan kini semakin kritis terhadap kebersihan destinasi, pengelolaan sampah, hingga komitmen pelaku usaha dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Karena itu, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan harus dibarengi dengan upaya menjaga kualitas destinasi agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan maupun menurunkan kenyamanan wisatawan,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>\u200eTerkait kondisi ekonomi global, ia menambahkan, pariwisata turut memengaruhi pola belanja wisatawan. Meski minat berkunjung ke Indonesia masih tinggi, banyak wisatawan memilih menunda perjalanan akibat ketidakpastian ekonomi dan situasi geopolitik. &#8220;Wisatawan yang tetap melakukan perjalanan pun mulai menghemat anggaran, misalnya dengan memilih kelas penerbangan yang lebih rendah atau menginap di hotel berbintang lebih rendah dibanding sebelumnya,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p>\u200eMeski demikian, Pauline menilai agen perjalanan tetap memiliki peran penting karena mampu menawarkan paket wisata dengan harga yang lebih kompetitif melalui kerja sama dengan maskapai, hotel, dan penyedia jasa wisata lainnya. Selain itu, pengembangan destinasi harus yang lebih inklusif. Indonesia masih perlu meningkatkan fasilitas bagi penyandang disabilitas agar seluruh wisatawan dapat menikmati perjalanan dengan nyaman.<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Kita juga perlu memikirkan fasilitas yang ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas dan wisatawan lanjut usia. Ini menjadi salah satu indikator kualitas destinasi wisata. Tak hanya itu kolaborasi lintas sektor dalam membangun pariwisata nasional juga penting. Pengembangan destinasi tidak hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Pariwisata maupun pelaku usaha, tapi juga memerlukan dukungan semua pihak dalam menjaga kebersihan, ketertiban, dan kenyamanan kawasan wisata,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>\u200ePauline menambahkan, &#8220;Edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat ekonomi sektor pariwisata juga perlu diperkuat agar tercipta kesadaran bersama untuk menjaga destinasi sebagai aset yang mampu menggerakkan perekonomian daerah\u201d. (evi)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, ITN \u2013 Program Doktor Ilmu Komunikasi Angkatan Ke-35 (DIK-35), Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, menggelar Seminar Internasional bertajuk \u201cProspects of the Tourism Industry Amid Economic Challenges\u201d pada Jumat di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (24\/7\/2026). Seminar ini mempertemukan pembuat kebijakan, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas berbagai strategi guna memperkuat daya saing pariwisata Indonesia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":44845,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[84,124],"tags":[],"class_list":["post-44835","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-berita","category-wisata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts\/44835","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/comments?post=44835"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts\/44835\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":44844,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/posts\/44835\/revisions\/44844"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/media\/44845"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/media?parent=44835"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/categories?post=44835"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/json\/wp\/v2\/tags?post=44835"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}