{"id":9495,"date":"2019-04-08T16:04:02","date_gmt":"2019-04-08T09:04:02","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/?p=9495"},"modified":"2019-04-08T16:08:44","modified_gmt":"2019-04-08T09:08:44","slug":"kemenpar-gandeng-samuel-wattimena-angkat-popularitas-tenun-khas-bima","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/gaya-hidup\/kemenpar-gandeng-samuel-wattimena-angkat-popularitas-tenun-khas-bima\/","title":{"rendered":"Kemenpar Gandeng Samuel Wattimena Angkat Popularitas Tenun Khas Bima"},"content":{"rendered":"<p><strong>BIMA, ITN-<\/strong> KEMENTERIAN Pariwisata (Kemenpar) menggandeng desainer ternama Samuel Wattimena untuk mengangkat dan mempromosikan kain tenun khas Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).<\/p>\n<p>Upaya untuk mengangkat dan mempromosikan kain tenun lokal tersebut dilakukan melalui Festival Lawata yang digelar di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat pada 6-8 April 2019.<\/p>\n<p>Pada kesempatan\u00a0 tersebut desainer Samuel Wattimena memamerkan hasil karya busana muslim yang dibawakan oleh lima model ibu kota berbahan dasar tenun Bima.<\/p>\n<p>\u201cGaya ini bisa menjadi alternatif dalam berhijab dengan bahan dasar tenun Bima. Sehingga para desainer muda memiliki inspirasi untuk mengolah tenun menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih,\u201d ujar Samuel Wattimena.<\/p>\n<p>Menurutnya kain tenun Bima memiliki ciri khas dari proses menenun sendiri. Prosesnya seperti disungkit, sehingga menimbulkan efek di permukaan kain yang dihias. Tetapi belakangnya tidak tembus.<\/p>\n<p>\u201cGaya berbusana di Kota Bima memadupadankan dengan bahan tafetta yang diproses kembali dengan teknik <em>crinkle<\/em>. Warna kain tenun Bima juga _eye catching_ memadupadankan warna komplimenter dan warna primer sesuai budaya di sini cenderung menyukai warna terang,\u201d katanya.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-9497 size-full\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/04\/IMG-20190408-WA0032-e1554714184229.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"463\">Samuel juga berharap, dengan adanya Festival Lawata ini bisa menginspirasi dan memacau para penenun setempat agar memanfaatkan tenun untuk kegunaan lainnya. Jadi tidak hanya untuk fashion saja, tetapi juga untuk tas dan barang-barang kesenian lainnya. Selain mencermati kecenderungan tren saat ini.<\/p>\n<p>&#8220;Ini tantangan tersendiri bagi pemerintah, untuk mengubah pola pikir masyarakat bahwa tenun bisa menjadi lahan wirausaha yang ternyata sangat menguntungkan dan berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kota Bima,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Pada kesempatan yang sama, Kabid Pemasaran Area II Regional III di Deputi Bidang Pemasaran I Kemenpar, Hendry Noviardi menambahkan, komitmen pemerintah pusat untuk mempopulerkan tenun Bima ini diharapkan mampu mengubah paradigma dan pola pikir masyarakat di wilayah itu.<\/p>\n<p>\u201cSejatinya kain tenun Bima, memiliki nilai ekonomi tinggi yang dapat dipasarkan hingga ke pasar nasional karena nilai estetikanya yang tinggi dan semakin langka. Terlebih jika tenun tersebut dijadikan bahan baku bagi desainer fashion ternama,\u201d ungkapnya.(*\/evi)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BIMA, ITN- KEMENTERIAN Pariwisata (Kemenpar) menggandeng desainer ternama Samuel Wattimena untuk mengangkat dan mempromosikan kain tenun khas Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Upaya untuk mengangkat dan mempromosikan kain tenun lokal tersebut dilakukan melalui Festival Lawata yang digelar di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat pada 6-8 April 2019. Pada kesempatan\u00a0 tersebut desainer Samuel Wattimena memamerkan hasil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":9496,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[77,73],"tags":[],"class_list":{"0":"post-9495","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-fesyen","8":"category-gaya-hidup"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/9495","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/comments?post=9495"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/9495\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media\/9496"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media?parent=9495"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/categories?post=9495"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/tags?post=9495"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}