{"id":7523,"date":"2018-07-05T05:38:41","date_gmt":"2018-07-04T22:38:41","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/?p=7523"},"modified":"2018-07-06T05:49:26","modified_gmt":"2018-07-05T22:49:26","slug":"isu-lingkungan-jadi-perhatian-utama-pariwisata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/berita\/isu-lingkungan-jadi-perhatian-utama-pariwisata\/","title":{"rendered":"Isu Lingkungan jadi Perhatian Utama Pariwisata"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA, ITN- <\/strong>PEMBANGUNAN pariwisata tidak lepas dari kerusakan lingkungan. Namun kerusakan lingkungan yang ditimbulkan harus ditekan sekecil mungkin.<\/p>\n<p>\u201cPariwisata merupakan sektor yang paling kecil menimbulkan kerusakan karena prinsip pembangunan pariwisata adalah _suistainable_ atau berkelanjutan,\u201d ujar Menpar Arief Yahya menjawab pertanyaan salah satu finalis Miss Earth Indonesia (MEI) 2018 dalam acara 30 Finalis MEI 2018 bertemu Menpar di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, kantor Kemenpar, Kamis (5\/7\/18).<\/p>\n<p>Menurutnya lingkungan yang terjaga merupakan aset bagi pariwisata untuk mendatangkan wiatawan. Pariwisata <em>concern<\/em> terhadap <em>sustainable<\/em> <em>tourism<\/em>, contohnya masyarakat sekitar hutan yang mengelola lahan hutan untuk kegiatan pariwisata.<\/p>\n<p>\u201cMisalnya dari 1.000 hektar hutan,\u00a0 yang dikelola sekitar 10% atau 100 hektar\u00a0 dari lahan itu hanya 10 hektar\u00a0 ada tapak bangunan. Ini artinya, hanya 1% yang digunakan oleh pariwisata sedangkan 99% menjadi aset yang harus dipelihara agar menjadi daya tarik untuk didatangani wisatawan,\u201d kata Menpar Arief.<\/p>\n<p>Menpar juga menjawab pertanyaan finalis seputar investasi di sektor pariwisata yang didominasi oleh investor asing.\u00a0 Investasi di sektor pariwisata tahun 2014 semula sebesar US$ 700 juta dengan komposisi 10% investor domestik dan 90% investor asing,\u00a0 namun tahun 2016 meningkat menjadi US$ 1 miliar dengan komposisi 30% domestik dan 70% asing.<\/p>\n<p>\u201cTahun 2017 meningkat\u00a0 menjadi US$ 1,8 miliar dengan komposisi kembali ke semula 10% investor domestik dan 90% investor asing. Saya coba menganalisa mengapa hal ini terjadi? Penyebabnya\u00a0 antara lain tidak adanya\u00a0 insentif bagi investor kita yang terjun ke usaha pariwisata,\u201d kata Menpar Arief.<\/p>\n<p>Mendominasinya investor asing di sektor pariwisata tersebut menurut Arief Yahya membawa dampak positif yaitu membawa modal dan mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman).<\/p>\n<p>Miss Earth Indonesia (MEI) 2018 diselenggarakan oleh Yayasan El John Indonesia melalui El John Pageants dan didukung Kemenpar serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Tahun ini, MEI 2018 memasuki tahun ke-6 dengan mengangkat tema \u2018The Real Implementation of Sustainable Development\u2019<\/p>\n<p>CEO EL John Indonesia Johnnie Sugiarto mengatakan, \u201cSaat ini para finalis MEI 2018 memasuki karantina dimulai pada 25 Juni 2018 di Ibis Budget Hotel Jakarta Daan Mogot ditandai dengan acara <em>welcome<\/em> <em>dinner<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Selama karantina mereka mendapat pembekalan di bidang lingkungan, public speaking_, pariwisata, dan kecantikan. Rangkaian acara MEI 2018 akan ditutup dengan acara Grand Final Miss Earth Indonesia 2018 yang berlangsung di Sun City Grand Ballroom Jakarta pada 6 Juli 2018 dan disiarkan langsung secara <em>live streaming<\/em> melalui YouTube dan El John Tv tepat pukul 19.00 WIB. (*\/sishi)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, ITN- PEMBANGUNAN pariwisata tidak lepas dari kerusakan lingkungan. Namun kerusakan lingkungan yang ditimbulkan harus ditekan sekecil mungkin. \u201cPariwisata merupakan sektor yang paling kecil menimbulkan kerusakan karena prinsip pembangunan pariwisata adalah _suistainable_ atau berkelanjutan,\u201d ujar Menpar Arief Yahya menjawab pertanyaan salah satu finalis Miss Earth Indonesia (MEI) 2018 dalam acara 30 Finalis MEI 2018 bertemu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7524,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[84,124],"tags":[],"class_list":{"0":"post-7523","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-berita","8":"category-wisata"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/7523","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/comments?post=7523"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/7523\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media\/7524"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media?parent=7523"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/categories?post=7523"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/tags?post=7523"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}