{"id":2567,"date":"2016-08-26T08:02:23","date_gmt":"2016-08-26T01:02:23","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/?p=2567"},"modified":"2016-08-26T08:02:23","modified_gmt":"2016-08-26T01:02:23","slug":"gulaku-ajak-lestarikan-kue-tradisional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/perjalanan-wisata\/gulaku-ajak-lestarikan-kue-tradisional\/","title":{"rendered":"GULAKU Ajak Lestarikan Kue Tradisional Sebagai Warisan Budaya dan Bangga Produk Lokal"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>JAKARTA, ITN-<\/strong> BERKAITAN dengan Hari Kemerdekaan\u00a0RI ke-71, GULAKU kembali mengadakan serangkaian kegiatan Gebrak Pasar dan mengajak Ibu PKK di sejumlah pasar tradisional dan kelurahan di Jabodetabek untuk berpartisipasi dalam demo masak jajanan manis tradisional khas Nusantara. Hal ini sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian makanan tradisional dan mendukung gerakan Ayo Kembali ke Pasar Tradisional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cRangkaian kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari program Jajanan Manis yang pertama. GULAKU ingin membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap kekayaan kuliner Nusantara sebagai salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari budaya luhur bangsa Indonesia. Kue Indonesia kental akan adat istiadat, memiliki filosofi tersendiri mulai dari penyajian, bahan pembuatan, hingga kekhasan momen keberadaan kue tersebut,\u201d ujar Communication Officer GULAKU, Fiter Cahyono di Jakarta, Selasa (23\/8\/16).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Fiter, setiap kue memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing yang menjadi bagian dari kearifan lokal suatu daerah dan sebagai bagian\u00a0 kekayaan kuliner Indonesia.\u00a0 Kue putri kandis dari Jambi yang masih asing di telinga masyarakat misalnya, kue ini serupa kue lapis, rasanya manis dan teksturnya lembut, proses pembuatannya harus telaten karena berlapis-lapis.\u00a0 Kue ini biasanya disajikan pada acara adat atau spesial di Jambi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada periode kedua Jajanan Manis ini, GULAKU memperkenalkan kue khas berbagai daerah, diantaranya kue wingko babat (Jawa Tengah), kue baruasa (Makassar), kue lepet jagung (Jawa Timur), kue lapek bugis (Minang), kue bingka pandan (Kalimantan Selatan), kue pepe asli Betawi (Jakarta), dan kue mata kebo (Yogyakarta).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2569\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2016\/08\/00000gl1-300x225.jpg\" alt=\"00000gl1\" width=\"300\" height=\"225\" \/>\u201cTotal ada 25 ragam resep jajanan manis yang dilengkapi dengan video\u00a0 cara pembuatan hingga penyajiannya yang dapat dilihat melalui website <a href=\"http:\/\/www.resepgulaku.com\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">www.resepgulaku.com<\/a> sehingga masyarakat bisa mengenal lebih dekat jajanan manis khas\u00a0Nusantara.\u00a0 \u201cSudah saatnya jajanan pasar atau kue tradisional\u00a0 diangkat menjadi ikon budaya bangsa,\u201d kata Fiter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seluruh rangkaian acara Gebrak Pasar dan edukasi kepada komunitas perempuan di sejumlah kelurahan dan kecamatan di Jabodetabek ini berlangsung Agustus-September 2016.\u00a0 Sebelumnya, Mei lalu GULAKU sukses menggelar acara serupa dengan menggandeng sekitar 1.000 ibu-ibu yang antusias mengikuti seluruh kegiatan dari awal hingga akhir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bungkus Manis Berhadiah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bersamaan dengan kegiatan Gebrak Pasar tersebut, GULAKU juga menggelar program Bungkus Manis Berhadiah yang berlangsung selama dua bulan di setiap titik lokasi dan dilaksanakan hingga 30 November 2016.\u00a0 Program ini bisa diikuti perseorangan (individu), RT, hingga kelurahan di beberapa area Jabodetabek sesuai kegiatan Jajanan Manis GULAKU.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegiatan tersebut dengan mengumpulkan bungkus GULAKU minimum 1 kg yang dibeli di mitra GULAKU di pasar tradisional yang telah ditentukan.\u00a0 Bungkus GULAKU, bon pembelian serta foto kopi identitas dapat mereka masukkan di kotak pengumpulan di kantor kelurahan sesuai domisili peserta.\u00a0Selain mengumpulkan bungkus untuk mendapat ragam hadiah, setiap pembelain 5 kg GULAKU akan langsung mendapat produk premium GULAKU 200 gram gratis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2570\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2016\/08\/00000gl2-300x225.jpg\" alt=\"00000gl2\" width=\"300\" height=\"225\" \/>Melalui kegiatan ini, GULAKU ingin menjadikan program Bungkus Manis Berhadiah sebagai apresiasi kepada masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK dan komunitas di tingkat RT (Rukun Tetangga) yang memiliki peran penting sebagai pengambil keputusan untuk memilih produk terbaik bagi keluarga, terutama dalam memilih produk gula murni yang sehat dan bersih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terkait program Bungkus Manis Berhadiah,\u00a0Fiter Cahyono mengatakan, \u201cProgram loyalty konsumen ini akan memberi pengalaman menarik kepada setiap pelanggan GULAKU, baik dari sisi pengenalan produk maupun manfaat lain dari GULAKU yang sebelumnya mungkin belum pernah terpikir di benak pelanggan\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap kegiatan GULAKU menurutnya harus menciptakan dan memiliki nilai-nilai positif bagi masyarakat yang terkait budaya kita, hal ini sesuai dengan<em>brand value<\/em>\u00a0GULAKU sebagai produk nasional. Rangkaian kegiatan Jajanan Manis GULAKU dan Bungkus Manis Berhadiah ini mengajak kita bersama-sama untuk bangga dan cinta produk lokal dengan melestarikan kuliner jajanan tradisional, kembali ke pasar tradisional, hingga budaya guyub di masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKami berharap melalui program loyalty ini dapat berlanjut dan kedepannya semakin mendekatkan brand GULAKU di hati masyarakat sebagai produk lokal yang berkualitas tinggi, terjangkau untuk semua segmen, serta peduli budaya Indonesia,\u201d kata Fiter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>\u00a0Perkenalkan Kue Mata Kebo<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>\u00a0<\/strong>Pada kesempatan kali ini Chef Yeni Ismayani mendemokan masakan Jajanan Manis GULAKU, Kue Mata Roda kepada ibu-ibu PKK di Kecamatan Matraman, Jakarta Timur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Chef Yeni mengatakan,\u201dMelalui kegiatan Jajanan Manis GULAKU ini, para ibu-ibu dapat lebih mengenal ragam jajanan khas Nusantara serta cara membuat kue dan pemilihan bahan pangan yang tepat seperti gula dalam setiap resep agar hasilnya maksimal. Demo masak kali ini, kami memperkenalkan kue mata kebo dari Yogyakarta\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya kue mata kebo adalah makanan tradisional Indonesia asal Yogyakarta\u00a0yang mulai jarang ditemukan keberadaanya, namun biasanya\u00a0ditemukan pada saat perayaan khusus. Dinamakan Kue Mata Kebo karena bentuknya yang bulat dan ditengahnya terdapat pisang sehingga menyerupai mata. Rasanya yang manis dan kenyal membuat kue ini digemari masyarakat Jawa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2571\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2016\/08\/000001gl5-164x300.jpg\" alt=\"000001gl5\" width=\"164\" height=\"300\" \/>\u00a0\u201cDi beberapa daerah kue mata kebo ini dikenal juga dengan nama mata roda, kue kacamata atau puteri noong. Setiap daerah memiliki sebutan berbeda meskipun sebenarnya sama dan hampir mirip,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahan dasar singkong parut yang diberi gula dan kelapa serta ditengahnya diisi dengan pisang. \u201cTeknik memasaknya dengan dikukus, bahan dasarnya ada yang menggunakan tepung ketan seperti Yogyakarta, sedangkan daerah lainnya ada yang menggunakan singkong parut. Begitu juga warna dari setiap kue tersebut disesuaikan dengan selera masing-masing daerah, ada yang berwarna hijau, merah dan kuning agar menarik,\u201d lanjut Chef Yeni Ismayani.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPisangnya tidak usah dikukus, karena bisa sekalian dikukus berbarengan dengan singkong. Untuk makanan atau masakan agar tidak cepat basi upayakan bahan-bahan masakan dalam keadaan bersih, gulanya gula bersih, lalu masak yang matang,\u201d ujar Chef Yeni menjawab beberapa pertanyaan pada acara tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak hanya itu sambil mendemokan kue mata roda sesekali chef Yeni juga menjawab pertanyaan yang menanyakan bagaimana agar kelapa parut taburan kue mata rodanya tidak cepat basi. \u201cSupaya tidak cepat basi kelapa parutnya diberi garam dan dikukus 15 menit,\u201d tuturnya. <strong>(evi)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berikut resep Kue Mata Roda :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td><strong>Bahan:<\/strong><\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td>1 kg<\/td>\n<td>Singkong, kupas, parut<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>100 gr<\/td>\n<td>\u00a0GULAKU<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\u00bd sdt<\/td>\n<td>Garam<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>4 buah<\/td>\n<td>Pisang tanduk, kukus<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\u00bd butir<\/td>\n<td>Kelapa setengah tua, kupas, parut<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\u00bc sdt<\/td>\n<td>Vanili seperlunya<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><\/td>\n<td>Pewarna kuning dan merah secukupnya<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><\/td>\n<td>Daun pisang buat membungkus<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Bahan Taburan :\u00a0<\/strong><\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td>\u00a0\u00bd butir<\/td>\n<td>Kelapa parut<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>2 lembar<\/td>\n<td>Daun pandan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\u00bc sdt<\/td>\n<td>\u00a0Garam<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><strong>Cara membuatnya: <\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Taburan : Campur semua bahan lalu kukus selama 20 menit. Angkat dan sisihkan<\/li>\n<li>Campur singkong, GULAKU, garam, kelapa parut dan vanili, aduk hingga tercampur rata<\/li>\n<li>Bagi adonan menjadi dua bagian, satu bagian beri pewarna kuning dan satu bagian lagi beri pewarna merah, aduk hingga rata.<img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2572\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2016\/08\/00000gl6-300x225.jpg\" alt=\"00000gl6\" width=\"300\" height=\"225\" \/><\/li>\n<li>Siapkan satu lembar daun pisang, letakkan \u00bc bagian adonan singkong, ratakan.<\/li>\n<li>Letakkan satu pisang diatasnya, lalu tutup pisang dengan adonan singkong hingga rata, bungkus dengan daun pisang. Lakukan hal yang sama sampai bahan habis.<\/li>\n<li>Kukus adonan hingga matang \u00b1 20 menit, angkat dan dinginkan.<\/li>\n<li>Buka bungkusnya lalu potong sesuai selera.<\/li>\n<li>Sajikan dengan taburan kelapa parut.<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, ITN- BERKAITAN dengan Hari Kemerdekaan\u00a0RI ke-71, GULAKU kembali mengadakan serangkaian kegiatan Gebrak Pasar dan mengajak Ibu PKK di sejumlah pasar tradisional dan kelurahan di Jabodetabek untuk berpartisipasi dalam demo masak jajanan manis tradisional khas Nusantara. Hal ini sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian makanan tradisional dan mendukung gerakan Ayo Kembali ke Pasar Tradisional. \u201cRangkaian kegiatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2568,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[65,1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-2567","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-kuliner","8":"category-perjalanan-wisata"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/2567","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/comments?post=2567"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/2567\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media\/2568"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media?parent=2567"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/categories?post=2567"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/tags?post=2567"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}