{"id":22523,"date":"2022-01-21T14:00:53","date_gmt":"2022-01-21T07:00:53","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/?p=22523"},"modified":"2022-01-21T15:02:44","modified_gmt":"2022-01-21T08:02:44","slug":"menparekraf-pergerakan-winus-jadi-andalan-pemulihan-sektor-pariwisata-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/ulasan-menarik\/menparekraf-pergerakan-winus-jadi-andalan-pemulihan-sektor-pariwisata-nasional\/","title":{"rendered":"Menparekraf: Pergerakan Winus Jadi Andalan Pemulihan Sektor Pariwisata Nasional"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA,ITN- <\/strong>Pandemi Covid 19 sejak awal tahun 2020 telah mengakibatkan menurunnya kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman). Hingga akhir tahun 2021 kunjungan Wisman hanya mencapai 1.58 juta orang atau turun 60,98 % dibanding tahun 2020. Wisatawan nusantara (Wisnus) pun menjadi harapan sekaligus roda penggerak pariwisata Indonesia di masa pandemi.<\/p>\n<p>\u201cDi tengah pandemi ini, terdapat secercah harapan yaitu tingginya antusiasme wisatawan nusantara yang menjadi roda penggerak geliat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif saat ini,\u201d ujar Menparekraf dalam Diskusi virtual Urban Forum &#8211; Forum Wartawan Daerah (FORWADA), Tourism &amp; Hospitality Outlook 2022 \u201cNew Normal Saatnya Bangkit dari Tidur Pulas\u201d, Kamis,(20\/1\/2022).<\/p>\n<p>Menparekraf mengungkapkan tahun 2021, Badan Pusat Statistik mencatat data pergerakan Winus mengalami peningkatan sebesar 12% bila dibandingkan dengan tahun 2020. Tidak hanya itu, lanjut Menparekraf, terjadi peningkatan devisa pariwisata sebesar 4% dibandingkan tahun 2020 yakni 0,32 Miliar USD menjadi 0,36 Miliar USD dan kontribusi PDB Pariwisata diperkirakan meningkat 37,4% dari persentase pada tahun 2020 sehingga mencapai angka 4.2% pada tahun 2021 lalu.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-22538 size-large\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2022\/01\/01-1024x576.jpg\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"392\">\u201cNilai ekspor produk ekraf diperkirakan meningkat hingga mencapai 20,58 Miliar USD dan nilai tambah ekraf pada tahun 2021 juga mengalami peningkatan sampai pada level 1.273 Trilyun Rupiah,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Menurut Menparekraf, pergerakan Winus ini akan menjadi andalan dalam pemulihan sektor pariwisata nasional tahun 2022 dengan target 260 juta \u2013 280 juta pergerakan. Diperkirakan, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB Nasional 2022 akan mencapai 4,3%. Sedikit lebih tinggi dari perkiraan capaian tahun 2021 yaitu sebesar 4,2%.<\/p>\n<p>Selain itu, lanjutnya, dari sisi nilai tambah ekonomi kreatif ditargetkan tahun 2022 dapat mencapai 1.236 Triliun. Untuk nilai ekspor produk kreatif ditargetkan mencapai USD 21,28 Miliar. Sedikit lebih baik dari perkiraan capaian tahun 2021 sebesar USD 20,48 Miliar.<\/p>\n<p>\u201cDampak dari pertumbuhan itu tentunya akan memperluas jumlah lapangan kerja pada sektor parekraf. Tahun 2022 ini kita menargetkan akan tercipta 400 ribu lapangan kerja baru yang berkualitas di sektor pariwisata. Sementara di ekonomi kreatif akan tumbuh lebih dari 600-700 ribu lapangan kerja yang ditopang oleh sektor unggulan yakni kuliner, kriya, dan fashion,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Menurut Menparekraf, jika dilihat sisi positifnya, pandemi justru mempercepat perubahan paradigma pembangunan pariwisata dari <em>Quantity Tourism <\/em>menjadi <em>Quality and sustainable Tourism<\/em> sebagaimana arahan Presiden pada tahun 2019.<\/p>\n<p>\u201cKita menekankan kepada prinsip <em>sustainable tourism <\/em>yang bergantung pada apa yang kita tawarkan kepada para wisatawan sesuai tren pariwisata kedepan yaitu <em>more personalized, customized, localized dan smaller in size<\/em>,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Salah satu variabel penting dalam <em>quality tourism<\/em> adalah penyediaan infrastruktur pariwisata yang memadai. Wisatawan tentu akan membelanjakan dananya (spending) lebih besar untuk suatu destinasi yang berkualitas, baik dari segi 3A (atraksi, akses dan amenitas) maupun infrastruktur pendukungnya.<\/p>\n<p>Soal target kunjugan Wisman tahun 2022 ini, Kemenparekraf\/Baparekraf menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 1,8 juta &#8211; 3,6 juta dengan nilai devisa pariwisata mencapai USD 470 juta \u2013 USD 1,7 Miliar.<\/p>\n<p>Maulana Yusron, Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyoroti agar di tahun 2022 ini, pemerintah fokus pada industry MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Menurutnya, segmen pasar Winus dari presprektif hotel dan restoran MICE lebih tinggi dibanding <em>leasure. <\/em><\/p>\n<p>\u201cDari sisi segmen pasar Winus dari presprektif hotel dan restoran, pasar segmen MICE memberikan kontribusi 70%, sementara <em>leasure<\/em>, dan minat khusus dan lainnya hanya 30%,\u201d ujar Yusron.<\/p>\n<p>Yusron mengungkapkan, era globalisasi dan semakin eksisnya Revolusi Industri 4.0 saat ini menjadikan prospek Industri MICE semakin berkembang. Selain itu, kegiatan MICE selalu melibatkan banyak sektor dan banyak pihak sehingga menimbulkan pengaruh ekonomi ganda yang menguntungkan banyak pihak.<\/p>\n<p>\u201cIndustri MICE memberikan manfaat langsung kepada ekonomi masyarakat seperti percetakan, advertising, akomodasi, usaha kuliner, cinderamata, biro perjalanan wisata, transportasi, professional conference organizer (PCO), usaha kecil dan menengah (UKM), pemandu wisata dan event organizer,\u201dungkapnya.<\/p>\n<p>Trisnadi Yulrisman, Direktur Keuangan dan Operasional PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), menyoroti industry homestay yang bisa menjadi penggerak perekonomian di desa wisata baik desa wisata prioritas maupun non prioritas.<\/p>\n<p>Menurutnya, SMF telah melakukan \u00a0inisiatif sStrategis produk KPR Rumah Usaha dalam bentuk program pembiayaan homestay sejak tahun 2018 dan dalam masa inkubasi hingga sekarang, program ini masih menggunakan dana PKBL\/TJSL.<\/p>\n<p>\u201cTotal anggaran pembiayaan homestay mencapai 20 milyar dengan realisasi hingga 2021 mencapai 7.747 milyar dengan total debitur 96,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Kehadiran SMF dalam pembiayaan homestay , lanjutnya,\u00a0 merupakan upaya pemerintah mendorong\u00a0 pertumbuhan usaha sesuai dengan rencana pengembangan bisnis, membantu kelancaran arus kas usaha sesuai dengan perkembangan arus kas bisnis, membantu terhindar dari jeratan pinjaman dengan bunga tidak wajar dan mewujudkan kemandirian usaha.<\/p>\n<p>\u201cSaat kami tengah mengembangkan penyaluran pembiayaan homestay melalui mitra, seperti pihak Pemda setempat dan juga BPR,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Danny Januar Ismawan, Direktur Layanan Masyarakat dan Pemerintah Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Kominfo \u00a0mengatakan, pengembangan jaringan telekomunikasi menjadi momen tersendiri bagi indsutri pariwisata yang mulai bangkit. Menurutya, kehadiran teknologi di satu tempat bisa mendorong tumbuhnya pariwisata local.<\/p>\n<p>\u201cAdanya jaringan telekomunikasi di satu lokasi, membuat aktifitas priwisata bisa hadir di lokasi itu. misalnya dengan adanya jaringan, seseorang bisa mengambil foto untuk Instagram di lokasi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Saat ini Bakti Kominfo telah membangun Base Transceiver Station (BTS) di destinasi wisata prioritas antara lain di Labuan Bajo. Hingga saat ini terdapat 36 BTS eksisting, sementara 24 lokasi lainnya masih dalam proses pembangunan.<\/p>\n<p>\u201cUntuk kawasan wisatas super prioritas di Kanupaten Lombok Tengah,\u00a0 akses internet BAKTI Kominfo terdapat di 74 lokasi, sementara rencana penambahan ada di 42 lokasi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sementara, Yuwono Imanto, Direktur PT Propan Raya ICC mengungkapkan, selaku produsen cat, selama ini pihaknya telah bekerja sama dengan kemanparekraf dalam upaya turut membantu membangun industry pariwisata.<\/p>\n<p>\u201cKita sering melakukan kegiatan CSR seperti ajang udian desain terbaik, membangun Kawasan kumuh, dan kawasan <em>heritage<\/em> bekerjasama dengan Kemenparekraf,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Menurut Yuwono, produk cat Propan tidak hanya menyasar hotel berbitang, namun juga industry homestay dengan memproduksi cat yang dengan harga terjangkau namun berkwalitas eksport.<\/p>\n<p>\u201cProduk kita mamang banyak dipakai di hotel berbintang baik di dalam maupun luar negeri, namun kami juga memproduksi cat untuk rumah subsidi, dan juga untuk homestay sebagai wujud dukungan kepada industry pariwisata,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Yuwono juga mengkritik adanya pelaku usaha pariwisata yang melakukan inovasi namun justru menghilangkan karakter jati diri bangsa Indonesia. Menurutnya, sudah selayaknya sebagai orang Indonesia harus bangga dengan jatidirinya.<\/p>\n<p>\u201cInovasi di dunia pariwisata jangan meninggalkan DNA kita, disini kita temui resort yang menggunakan desain luar negeri,\u00a0 menurut saya ini tidak tepat,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sementara, Yuhan Subrata, pengelola Hutan Organik Megamendung, Bogor mengatakan, wisata hutan organik sempat mati suri diawal pandemi, namun sejak tahun lalu, mulai bergeliat lagi. Wisata hutan organik yang dikelolanya saat ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan nusantara.<\/p>\n<p>\u201cSetiap harinya sakarang ada 10 sd 15 orang pengunjung yang datang, ini bagi kami ini cukup besar saat ini meski tidak sebanding saat sebelum pandemic,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Yuhan berharap, wisatawan nusantara makin banyak yang mencintai dan mengunjungi lokasi wisata lokal, yang pada akhirnya akan menghidupkan perekonomian rakyat di desa wisata.<\/p>\n<p>\u201cAyo dukung wisata lokal, jadikan masyarakat lokal jadi tuan rumah di negeri sendiri,\u201d ungkapnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA,ITN- Pandemi Covid 19 sejak awal tahun 2020 telah mengakibatkan menurunnya kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman). Hingga akhir tahun 2021 kunjungan Wisman hanya mencapai 1.58 juta orang atau turun 60,98 % dibanding tahun 2020. Wisatawan nusantara (Wisnus) pun menjadi harapan sekaligus roda penggerak pariwisata Indonesia di masa pandemi. \u201cDi tengah pandemi ini, terdapat secercah harapan yaitu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":22525,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[84,123,2,124],"tags":[],"class_list":{"0":"post-22523","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-berita","8":"category-nasional","9":"category-ulasan-menarik","10":"category-wisata"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/22523","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/comments?post=22523"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/22523\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media\/22525"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media?parent=22523"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/categories?post=22523"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/tags?post=22523"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}