{"id":13595,"date":"2020-05-17T01:39:33","date_gmt":"2020-05-16T18:39:33","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/?p=13595"},"modified":"2020-05-17T01:39:33","modified_gmt":"2020-05-16T18:39:33","slug":"kemenparekraf-tunjuk-bali-jadi-pilot-project-program-chs","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/berita\/kemenparekraf-tunjuk-bali-jadi-pilot-project-program-chs\/","title":{"rendered":"Kemenparekraf Tunjuk Bali Jadi Pilot Project Program CHS"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA, ITN-<\/strong> Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan menerapkan program CHS (<em>Cleanliness, Health, and Safety<\/em>) di setiap destinasi maupun lokasi lain terkait pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai strategi mempercepat pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pascapandemi Covid-19.<\/p>\n<p>Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif\/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ni Wayan Giri Adnyani saat melakukan rapat dengan Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Kamis (14\/5), mengatakan, saat ini Kemenparekraf sedang menyiapkan langkah-langkah pemulihan antara lain menyusun SOP yang mengacu pada standar kesehatan, kebersihan dan keselamatan. Rincian program pemulihan akan dibahas dan dikomunikasikan ke seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif.<\/p>\n<p>\u201cKemenparekraf bekerja sama dengan Kemenkes dan lembaga terkait dalam melakukan survei, verifikasi implementasi SOP CHS dengan baik dan benar sesuai standarisasi yang ditetapkan,\u201d ujar Ni Wayan Giri Adnyani.<\/p>\n<p>Sebagai destinasi utama pariwisata Indonesia, Bali ditetapkan menjadi\u00a0<em>pilot project<\/em>\u00a0dalam penerapan program CHS untuk nantinya diimplementasikan ke daerah lainnya di Indonesia.<\/p>\n<p>Ia mengatakan hal itu menjadi tak terelakkan karena pandemi Covid-19 telah membuat perilaku manusia yang baru (<em>new normal<\/em>). Dimana masyarakat jauh lebih peduli terhadap faktor-faktor kebersihan, kesehatan, dan keamanan termasuk untuk destinasi pariwisata.<\/p>\n<p>Karena itu sudah sepatutnya dilakukan penyesuaian agar pascapandemi pariwisata menjadi sektor yang dapat pulih dengan cepat. Seperti yang diperkirakan Presiden Joko Widodo bahwa sektor pariwisata akan booming setelah wabah berakhir.<\/p>\n<figure id=\"attachment_13597\" aria-describedby=\"caption-attachment-13597\" style=\"width: 700px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-13597 size-full\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2020\/05\/IMG-20200515-WA0018-e1589654270143.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"467\"><figcaption id=\"caption-attachment-13597\" class=\"wp-caption-text\">Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif\/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ni Wayan Giri Adnyani<\/figcaption><\/figure>\n<p>\u201cGerakan CHS ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap destinasi dan industri pariwisata Indonesia usai Covid-19 sehingga mendorong peningkatan pergerakan dan kunjungan wisatawan di Indonesia, yang pada tahap awal pasti akan didominasi oleh wisatawan domestik,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Turut hadir dalam kesempatan tersebut Inspektur Utama \u2013 Baparekraf Restog Krisna Kusma, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf Nia Niscaya, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kemenparekraf Rizki Handayani, Deputi Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf Hari Santosa Ungkari, Staf Khusus Bidang Keamanan Kemenparekraf Adi Deriyan Jayamarta, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Putu Astawa, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya, juga Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana Bali, I Gde Pitana.<\/p>\n<p>Secara umum, Giri menjelaskan, konsep CHS mengacu pada protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan dan konsep pembangunan kepariwisataan berkelanjutan serta secara spesifik mengimplementasikan Sapta Pesona yang merupakan jiwa pariwisata Indonesia. Secara terpisah dapat dikatakan konsep\u00a0<em>cleanliness<\/em>\u00a0(kebersihan) merujuk pada keadaan bebas dari kotoran, termasuk diantaranya debu, sampah, dan bau. Selain itu kebersihan juga berarti besar dari virus, bakteri patogen, dan bahan kimia berbahaya.<\/p>\n<p>Sementara\u00a0<em>health<\/em>\u00a0(kesehatan) adalah layanan yang menerapkan aturan atau ketentuan kesehatan terhadap manusia dan lingkungan melalui kegiatan pencegahan, perawatan, pemantauan, dan pengendalian. Selain itu, juga menjalankan peran dengan mempromosikan peningkatan parameter lingkungan dan mendorong penggunaan teknologi dan perilaku yang ramah lingkungan dan sehat.<\/p>\n<p>Sedangkan\u00a0<em>safety<\/em>\u00a0(keselamatan) sudah mencakup faktor keamanan adalah keadaan bebas dari risiko, bahaya, pencemaran, ancaman, gangguan yang bersifat permanen dan nonpermanen, fisik dan nonfisik di suatu tempat dan waktu tertentu untuk mengelola, melindungi dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat, pengunjung dan kualitas lingkungan.<\/p>\n<p>Serta yang tidak kalah penting adalah\u00a0<em>zero waste management<\/em>\u00a0dimana pengelola destinasi harus memiliki strategi dan penerapan kebijakan pengelolaan sampah yang baik.<\/p>\n<p>\u201cPerlu dilakukan uji coba dari penerapan SOP CHS ini, yang nantinya akan menjadi panduan bagi pemerintah daerah, pengelola destinasi pariwisata dan pengelola usaha pariwisata, serta pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif lainnya. Setelahnya baru dilakukan verifikasi,\u00a0<em>audit<\/em>, dan sertifikasi CHS dengan melibatkan lembaga sertifikasi. Dengan begitu diharapkan dapat terwujud destinasi dan industri pariwisata yang bersih, sehat, dan aman sehingga tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi wisatawan, pengelola, dan masyarakat,\u201d ungkakap Giri.<\/p>\n<p>Untuk tahap awal, program ini akan coba diterapkan di Bali. Karena selain sebagai magnet utama wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara, Bali juga merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan penyebaran Covid-29 yang terkendali serta penanganan Covid-19 yang sangat bagus. Meskipun Bali adalah pusat pariwisata dengan banyak wisatawan yang berkunjung, tapi Bali bukanlah wilayah yang menjadi episentrum pandemi Covid-19 di Indonesia. Tercatat hingga saat ini terdapat 332 kasus positif Corona di Bali, 220 orang sembuh dan 4 orang meninggal.<\/p>\n<p>\u201cPenerapan pun akan dilakukan secara bertahap, untuk pertama direncanakan di kawasan Nusa Dua Bali,\u201d terang Giri.<\/p>\n<p>Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau yang juga akrab disapa Cok Ace menyambut baik program yang sedang disiapkan Kemenparekraf. Menurutnya, Bali sebagai daerah pariwisata tidak bisa diam melihat situasi yang ada.<\/p>\n<p>\u201cProgram ini tentu sangat baik dalam mempersiapkan Bali untuk kembali menerima wisatawan nantinya,\u201d ujar Cok Ace.<\/p>\n<p>Ia mengakui minat wisatawan untuk kembali berwisata ke Bali saat ini sangat tinggi, terutama dari wisatawan mancanegara. Namun sebelum itu, dibutuhkan penetapan protokol baru kepariwisataan yang menitikberatkan pada jaminan keamanan dan kesehatan bagi wisatawan sebagai prioritas.<\/p>\n<p>Dengan penyusunan program dan pendampingan dari Kemenparekraf tentu akan membantu Bali untuk menyiapkan langkah-langkah ke depan. Kawasan Nusa Dua yang dikelola ITDC dinilai cocok untuk penerapan program CHS untuk tahap awal di Bali.<\/p>\n<p>\u201cTempatnya strategis dapat mengakomodasi segala minat dan kebutuhan wisatawan. Untuk \u2018<em>social distancing<\/em>\u2019 juga baik karena jauh dari masyakat. Tinggal disiapkan protokol kesehatan serta protokol lainnya secara ketat,\u201d jelasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, ITN- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan menerapkan program CHS (Cleanliness, Health, and Safety) di setiap destinasi maupun lokasi lain terkait pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai strategi mempercepat pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pascapandemi Covid-19. Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif\/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ni Wayan Giri Adnyani saat melakukan rapat dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13596,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[84,124],"tags":[],"class_list":{"0":"post-13595","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-berita","8":"category-wisata"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/13595","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/comments?post=13595"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/13595\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media\/13596"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media?parent=13595"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/categories?post=13595"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/tags?post=13595"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}