{"id":12456,"date":"2020-02-28T04:54:00","date_gmt":"2020-02-27T21:54:00","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/?p=12456"},"modified":"2020-02-28T04:54:00","modified_gmt":"2020-02-27T21:54:00","slug":"lima-tantangan-komunikasi-perusahaan-di-era-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/berita\/lima-tantangan-komunikasi-perusahaan-di-era-digital\/","title":{"rendered":"Lima Tantangan Komunikasi Perusahaan di Era Digital"},"content":{"rendered":"<div dir=\"auto\"><strong>JAKARTA, ITN-<\/strong> Era digital menciptakan peta media di Tanah Air semakin <em>clutter.<\/em> Hal ini dipicu oleh hadirnya beragam <em>channel<\/em> di luar media<em> mainstream<\/em> yang kerap mempengaruhi strategi komunikasi para pemilik brand. Dalam situasi seperti ini, peran jurnalis sebagai <em>earned<\/em> media menjadi sangat penting untuk menyebarkan pesan dan informasi kepada khalayak, sekaligus\u00a0 memberi <em>value<\/em> dalam kampanye brand dan korporat. Untuk mencapai tujuan itu, tentu saja penting bagi pengelola brand memahami tuntutan dan kebutuhan dari para jurnalis\u00a0 dalam menjalankan profesinya.<\/div>\n<div dir=\"auto\"><\/div>\n<div dir=\"auto\">Pentingnya para pemilik brand memahami jurnalis dalam menjalankan praktek jurnalistik menjadi tema utama sharing session pada acara MIX Marketing Gathering sekaligus memperingati HUT ke-16 Majalah MIX Marcomm yang diadakan di Auditorium London School Public Relations (LSPR) Jakarta, Rabu (26\/2\/2020). Acara menghadirkan jurnalis dari berbagai media, serta para praktisi PR dan pengelola brand dari sejumlah korporat.<\/div>\n<div dir=\"auto\"><\/div>\n<div dir=\"auto\">\n<figure id=\"attachment_12458\" aria-describedby=\"caption-attachment-12458\" style=\"width: 696px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-12458\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2020\/02\/IMG-20200227-WA0030-1024x682.jpg\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"464\"><figcaption id=\"caption-attachment-12458\" class=\"wp-caption-text\">Founder and CEO LSPR Jakarta, Prita Kemal Gani.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Founder and CEO LSPR Jakarta, Prita Kemal Gani dalam <em>keynote speech-<\/em>nya menyampaikan tantangan dan peluang bagi para praktisi komunikasi perusahaan di era digital. Menurutnya, terdapat lima tantangan sekaligus peluang tersebut, yaitu konvergensi media tradisional dan digital, bentuk komunikasi interaktif, informasi sekarang mengalir dengan cepat dan gratis, segala sesuatu didukung oleh teknologi, dan kecepatan perubahan dan kecepatan respon.<\/div>\n<div dir=\"auto\"><\/div>\n<div dir=\"auto\">President ASEAN PR Network (APRN) ini menekankan aktivitas PR yang proaktif sangat dibutuhkan untuk membangun sebuah brand. Terlebih di era digital yang semakin heterogen dengan tampilnya new audience, <em>new relations, new tool, <\/em>serta<em> new standard.<\/em> \u201cJelas, itu menjadi tantangan bagi pengelola brand maupun praktisi komunikasi,\u201d ujarnya.<\/div>\n<div dir=\"auto\"><\/div>\n<div dir=\"auto\">Menurutnya, ada tiga strategi PR di era digital (<em>3 PR insight on digital age<\/em>) saat ini,\u00a0 yakni pentingnya menjalin hubungan yang baik (<em>build important relationship<\/em>), melakukan <em>endorse<\/em> melalui orang-orang yang kompeten dan memiliki kredibilitas yang baik (<em>endorse frienship), <\/em>serta berupaya menciptakan image brand maupun kroporat yang juga baik <em>(build good image).\u00a0<\/em><\/div>\n<div dir=\"auto\"><\/div>\n<div dir=\"auto\"><img decoding=\"async\" class=\"alignleft size-full wp-image-12459\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2020\/02\/87312679_10157993642052438_7402415446491660288_n-e1582840411412.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"466\">Dalam kata sambutannya, Prita juga memaparkan kompetensi yang harus dimiliki seorang PR di era digital saat ini hingga lima tahun ke depan. Kompetensi tersebut antara lain <em>relationship skill, resources skill, management skill, leadership skill, multimedia development skill, research skill &amp; analysis, written &amp; verbal communications skill, multicultural &amp; adaptable, entrepreneurial skill, <\/em>serta<em> finance &amp; budgeting skill.\u00a0\u00a0<\/em><\/div>\n<div dir=\"auto\"><\/div>\n<div dir=\"auto\">Sejumlah fakta tentang <em>convergence<\/em> media tradisional dan digital, penyampaian pesan brand dan customer yang semakin cepat, interaktif, dan semua orang bisa berkomentar di sosial media, dinilai Prita, adalah tantangan dan juga peluang. \u201cYang paling penting adalah bagaiman pemilik brand dapat merancang strategi PR dengan jitu melalui orang-orang di bagian PR yang memiliki skill dan kompetensi yang andal,\u201d imbuh Prita.<\/div>\n<div dir=\"auto\"><\/div>\n<div dir=\"auto\">Lis Hendriani, Pemimpin Redaksi Majalah MIX, menambahkan peta media yang sekarang semakin<em> clutter<\/em> dengan kehadiran beragam channel di luar media mainstream menjadi tantangan baru bagi para praktisi komunikasi brand maupun korporat. Jurnalis sebagai pelaku <em>earned media<\/em>, katanya, seharusnya semakin meningkatkan kompetensinya dalam membuat berita yang berimbang untuk membedakannya dengan para selebgram, endorser, atau Key Opinion Leader (KOL) yang selama ini banyak yang diperlakukan sebagai paid media oleh brand\/korporat. Sementara pihak korporat, katanya, seharusnya lebih menghargai berita yang ditulis para jurnalis yang lebih berimbang karena value-nya lebih besar (sebagai<em> earned media<\/em>).<\/div>\n<div dir=\"auto\"><\/div>\n<div dir=\"auto\">Pada\u00a0 acara sharing session bertema \u201cKetika Jurnalis Ngomongin Brand\u201d tampil lima orang wartawan senior dari berbagai desk sebagai pembicara, yakni Dwi Wulandari, wartawan majalah MIX MarComm, Eny Wibowo, wartawan hidupgaya.co, Herning Banirestu, wartawan majalah bisnis SWA, Lilis Setyaningsih wartawan Wartakota, dan M Syakur Usman, wartawan Merdeka.com.<\/div>\n<div dir=\"auto\"><\/div>\n<div dir=\"auto\">Para pembicara berbagi pengalaman terkait dalam kegiatan jurnalistik di lapangan, dari soal kesulitan menembus narasumber untuk wawancara, sikap narasumber yang \u201cpelit\u201d memberikan data, konten rilis yang minim informasi, persoalan sikap tertutup narasumber saat diterpa isu, dan persaingannya dengan para selebgram yang menjadi brand endorser.<\/div>\n<div dir=\"auto\"><\/div>\n<div dir=\"auto\">Menurut para pembicara, pemilik brand atau korporat dan jurnalis sebenarnya saling membutuhkan. Bagi jurnalis, yang dibutuhkan adalah data atau statement dari pejabat yang kompeten terkait tema tulisan.\u00a0 Oleh karena itu, memberi akses seluasnya bagi jurnalis untuk menggali informasi menjadi tuntutan dan kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam menjalankan praktik jurnalistik.<\/div>\n<div dir=\"auto\"><\/div>\n<div dir=\"auto\">\u201cAgar terjalin hubungan harmonis,\u00a0 PR di korporat maupun pengelola brand mesti membuka akses seluasnya bagi jurnalis untuk memperoleh informasi. Ini bisa tercipta jika PR di korporat atau brand bersikap komunikatif dan interaktif dengan jurnalis, serta kreatif dengan menyuguhkan konten informasi yang lengkap dan detail,\u201d tutup Dwi Wulandari. (evi)<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, ITN- Era digital menciptakan peta media di Tanah Air semakin clutter. Hal ini dipicu oleh hadirnya beragam channel di luar media mainstream yang kerap mempengaruhi strategi komunikasi para pemilik brand. Dalam situasi seperti ini, peran jurnalis sebagai earned media menjadi sangat penting untuk menyebarkan pesan dan informasi kepada khalayak, sekaligus\u00a0 memberi value dalam kampanye [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12457,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[84,88],"tags":[],"class_list":{"0":"post-12456","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-berita","8":"category-metropolitan"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/12456","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/comments?post=12456"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/12456\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media\/12457"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media?parent=12456"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/categories?post=12456"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/tags?post=12456"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}