{"id":11815,"date":"2019-11-29T04:09:07","date_gmt":"2019-11-28T21:09:07","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/?p=11815"},"modified":"2019-11-29T04:09:07","modified_gmt":"2019-11-28T21:09:07","slug":"ada-kejutan-dibalik-karya-seni-terfavorit-tumurun-private-museum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/perjalanan-wisata\/ada-kejutan-dibalik-karya-seni-terfavorit-tumurun-private-museum\/","title":{"rendered":"Ada Kejutan Dibalik Karya Seni Terfavorit Tumurun Private Museum"},"content":{"rendered":"<p><strong>SOLO, ITN-<\/strong> Sejak diresmikan pada awal April 2018 lalu, Tumurun Private Museum kini menjadi kebanggaan masyarakat Solo. Museum ini menjadi perbincangan para pecinta seni di Indonesia serta menambah deretan museum seni yang mulai bermunculan di Indonesia.<\/p>\n<p>Sesuai dengan nama museumnya, museum ini tidak dibuka secara publik untuk umum. Dikarenakan museum tersebut museum private milik Iwan Kurniawan Lukminto, anak dari pendiri perusahaan tekstil terbesar Asia, PT Sritex, HM Lukminto. Maka tidak semua orang dapat dengan leluasa masuk ke museum ini.<\/p>\n<figure id=\"attachment_11817\" aria-describedby=\"caption-attachment-11817\" style=\"width: 696px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-11817\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/11\/IMG-20191119-WA0203-1024x682.jpg\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"464\"><figcaption id=\"caption-attachment-11817\" class=\"wp-caption-text\">Tumurun Private Museum. (foto ibonk\/journeyofindonesia)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Untuk bisa berkunjung ke museum ini, pihak Tumurun tidak membebani biaya sama sekali namun \u00a0harus melakukan reservasi terlebih dahulu, tujuh hari sebelum hari kunjungan melalui website Tumurun Private Museum. Pasalnya sistem yang digunakan adalah penjadwalan. Tumurun Private Museum menerima kunjungan dari hari Senin hingga Sabtu dengan maksimal 10 reservasi tiap harinya.<\/p>\n<p>Museum yang terletak di Jalan Kebangkitan Nasional, dekat dengan Taman Sriwedari, Solo ini terinspirasi dari ayahnya yang juga serorang kolektor dan penikmat seni. Tak hanya itu mobil Mercy keluaran tahun 1972 peninggalan milik almarhum Lukminto yang ketika ia wafat dan tidak ada yang merawatnya juga menjadi inspirasi untuk segera membangun ruang yang besar agar mobil Mercy dan karya-karya seni koleksi almarhun Lukminto dapat tersimpan dengan baik.<\/p>\n<figure id=\"attachment_11818\" aria-describedby=\"caption-attachment-11818\" style=\"width: 696px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-11818\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/11\/IMG-20191119-WA0235-1024x682.jpg\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"464\"><figcaption id=\"caption-attachment-11818\" class=\"wp-caption-text\">nstalasi bertajuk\u00a0\u201cChanging Perspectives\u201d karya perupa muda asal Jogjakarta, Wedhar Riyadi,dengan tinggi tujuh dan lima meter. (foto ibonk\/journeyofindonesia)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong><em>Indonesiatripnews.com<\/em><\/strong> yang datang bersama peserta famtrip Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) belum lama ini \u00a0berkesempatan untuk mengunjungi museum tersebut. \u201cTumurun diambil dari kata turun-temurun dalam arti mewariskan dari generasi lama ke generasi baru. Sehingga semua karya seni yang ada di museum ini baik itu patung, lukisan, dan mobil adalah koleksi milik pribadi,\u201d ujar pemandu museum, Sofyan Prasetyo.<\/p>\n<p>Untuk masuk ke museum, selain tidak diperkenankan membawa masuk tas, Sofyan juga tidak menyarankan untuk masuk ke lantai 2 dikarenakan dibagian atas menjadi area <em>modern art<\/em> terdapat lukisan tua yang pelukisnya sudah tidak ada, serta beberapa lukisan maestronya Indonesia, seperti pelukis Affandi, Sudjoyono, HIdayat, Basoeki Abdullah, Antonio Blanco, dll yang harus dijaga keamanannya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_11819\" aria-describedby=\"caption-attachment-11819\" style=\"width: 696px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-11819 size-large\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/11\/IMG_20191119_131655-1024x576.jpg\" alt=\"Pemandu museum, Sofyan Prasetyo saat menjelaskan lukisan kaya\" width=\"696\" height=\"392\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11819\" class=\"wp-caption-text\">Lukisan karya Rudi Mantofani yang berjudul \u201cMerah dan Putih (2017)\u201d dengan ukuran 180 cm x 300 cm. (foto. ITN\/evi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Tak hanya itu sebelum masuk Sofyan juga menyarankan kepada pengunjung museum untuk tidak menyentuh karya seni dengan alasan apapun, seperti lukisan, patung, juga mobil. \u201cJarak karya seni dengan pengunjung kurang lebih satu meter, agar karya tersebut tidak tersenggol dengan kita. Boleh mengambil foto tetapi <em>flash<\/em> dimatikan karena dapat berpengaruh kepada karya seni,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Sebelum berkeliling, ia pun berpesan untuk tidak menduduki panggung melingkar berwarna putih, serta kursi dan meja yang ada di bagian belakang, dikarenakan meja dan kursi tersebut merupakan karya seni.<\/p>\n<figure id=\"attachment_11821\" aria-describedby=\"caption-attachment-11821\" style=\"width: 696px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-11821\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/11\/IMG_20191119_131403-1024x576.jpg\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"392\"><figcaption id=\"caption-attachment-11821\" class=\"wp-caption-text\">Lukisan I Made Djirna menggunakan pasir sebagai bahan dasar lukisannya. (foto ITN\/evi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Sebelum menjelaskan, Sofyan juga menyarakankan bagi pengunjung yang masih belum jelas mengenai sebuah karya yang ada di museum ini dibekali dengan barcode yang dapat langsung scan QR dari gadget masing-masing dan akan mendapat informasi yang lengkap tentang karya tersebut.<\/p>\n<p>Perjalanan menikmati karya seni di museum ini dimulai dengan menikmati beberapa karya seni terfavorit yang berada di lantai dasar tepatnya area Contemporary Art. Ada sekitar 100 karya seni yang di pajang di lantai dasar ini.<\/p>\n<p>\u201cDi area ini pelukisnya masih muda-muda dan produktif. Yang pertama Sofyan memperkenalkan instalasi bertajuk\u00a0\u201cChanging Perspectives\u201d karya perupa muda asal Jogjakarta, Wedhar Riyadi, dua instalasi setinggi tujuh dan lima meter ini tampak telihat megah berdiri di tengah ruangan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_11822\" aria-describedby=\"caption-attachment-11822\" style=\"width: 696px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-11822 size-large\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/11\/IMG_20191119_1335301-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"522\"><figcaption id=\"caption-attachment-11822\" class=\"wp-caption-text\">Karya seniman asal Solo, Aditya Novali berjudul \u201cThe Wall: Asian (Un) Real Estate Project (2013)\u201d berukuran 365 cm x 180 cm x 25 cm menceritakan sebuah apartemen yang berada di luar negeri dengan dua pemikiran orang luar negeri tentang apartemen. (foto ITN\/evi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>\u201cMelalui instalasi ini Wedhar Riyadi mengkritik sosial media. Menurut Wedhar orang yang sedang menggunakan akun sosial media, dalam hal ini Facebook dan Instagram itu sudah <em>no privacy<\/em> lagi, karena secara tidak langsung kita sedang melakukan apa dan sedang apa, dan kita sedang dimana itu secara tidak langsung banyak pasang mata yang melihat, untuk itulah instalasi tersebut digambarkan banyak pasang mata,\u201d ungkap Sofyan.<\/p>\n<p>Tak hanya itu, menurutnya Wedhar juga menggambarkan pada instalasi tersebut selagi kita banyak yang mengamati ternyata kita juga banyak yang mengikuti, sehingga pada instalasi yang memiliki tinggi lima meter tersebut menggunakan kaki.<\/p>\n<p>Dilanjutkan dengan memperkenalkan mobil Mercy milik almarhum Lukminto yang telah menemani Lukminto ketika masih berdagang di Pasar Klewer, Solo hingga wafat. Menurut Sofyan mobil tersebut masih bisa jalan dan interior mobil pun masih original.<\/p>\n<figure id=\"attachment_11823\" aria-describedby=\"caption-attachment-11823\" style=\"width: 696px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-11823\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/11\/IMG_20191119_133403-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"522\"><figcaption id=\"caption-attachment-11823\" class=\"wp-caption-text\">Lukisan berjudul \u2018Sapalah Kehidupan dengan Ramahi (2013)\u2019 berukuran 145 cm x 145 cm karya Abdul Djalil Pirous ini terdapat potongan ayat suci Al Qur\u2019an, yakni surat Al-Isro ayat 37. (Foto ITN\/evi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Koleksi terfavorit selanjutnya, yakni karya baru dari seniman Bali, I Made Djirna yang baru empat bulan hadir di museum. Lukisan dengan media canvas berukuran 295 cm x 485 cm tersebut berjudul \u2018Mencari Yang Hilang (2014)\u2019 menceritakan Ramayana dan Sinta. Lukisan I Made Djirna sangat menarik dikarenakan bahan dasar yang dijadikan media lukisannya menggunakan pasir.<\/p>\n<p>Lukisan bendera merah putih dengan penambahan material Kepulauan Indonesia di tengah yang menggambarkan berbagai macam ras, suku, budaya, dan agama yang ada di Indonesia tampak terlihat menyegarkan mata.<\/p>\n<p>Menariknya Kepulauan Indonesia tersebut terbuat dari cat acrylic yang dikeraskan lalu dibentuk dan di ukir. Kepulauan tersebut jika diperhatikan memiliki dua warna yang dapat dilihat. Banyak yang mengira kalau lukisan karya Rudi Mantofani yang berjudul \u201cMerah dan Putih (2017)\u201d dengan ukuran 180 cm x 300 cm tersebut terbuat dari kertas yang ditempel, namun yang sesungguhnya warna merah putih tersebut sebuah lukisan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_11824\" aria-describedby=\"caption-attachment-11824\" style=\"width: 696px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-11824\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/11\/IMG-20191119-WA0214-1024x682.jpg\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"464\"><figcaption id=\"caption-attachment-11824\" class=\"wp-caption-text\">\u201cI am a ghost in my own house (2012)\u201d menceritakan sebuah kehidupan. (foto ibonk\/journeyofindonesia)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Bergeser sedikit dari karya Rudi, terapat dua lukisan karya Eddy Susanto berjudul \u201cMelencolia I (Java Durer #2) 2016\u201d yang berukurkan 300 cm x 200 cm menggunakan aksara Jawa, serta \u201cAfter Baba (T) D Diponegoro (2013)\u201d yang berukuran 190 cm x 300 cm. Menariknya lukisan yang menceritakan perang Diponegoro ini dapat berubah warna jika diberi cahaya.<\/p>\n<p>Dilanjutkan dengan lukisan karya F Sigit Santosa yang berjudul \u201cMea Culpa, Mea Culpa, Mea Maxima Culpa (2017)\u201d dengan ukuran 200 cm x 140 cm yang menggunakan cat minyak pada canvas. &#8220;Mengungkapkan betapa malaikat pun menyesali diri karena berbuat dosa,&#8221; ujar Sofyan.<\/p>\n<p>\u201cIni lukisan terfavorit saya. Lukisan berjudul \u2018Sapalah Kehidupan dengan Ramahi (2013)\u2019 berukuran 145 cm x 145 cm karya Abdul Djalil Pirous ini terdapat potongan ayat suci Al Qur\u2019an, hampir di setiap lukisan karya seniman lulusan ITB Bandung ini memasukan potongan ayat suci Al Qur\u2019an yang terkait dengan judul lukisannya,\u201d jelas Sofyan.<\/p>\n<p>Untuk lukisan ini menurutnya Abdul Djalil mengambil potongan dari surat Al-Isra ayat 37, yang arti dari ayat tersebut, yaitu dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.<\/p>\n<figure id=\"attachment_11826\" aria-describedby=\"caption-attachment-11826\" style=\"width: 696px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-11826\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/11\/IMG-20191119-WA0218-1024x682.jpg\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"464\"><figcaption id=\"caption-attachment-11826\" class=\"wp-caption-text\">Menikmati karya seni Melati Suryodarmo \u201cI am a ghost in my own house (2012)\u201d menceritakan sebuah kehidupan yang juga ditampilkan dalam layar tv. (Foto ibonk\/journeyofindonesia)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Lukisan tersebut mengambil cerita lempengan bumi yang dibawahnya terdapat magma, dan yang menakjubkan pada gambar lempengan bumi tersebut terbuat dari emas.<\/p>\n<p>Sementara seniman Melati Suryodarmo dengan karyanya yang berjudul \u201cI am a ghost in my own house (2012)\u201d menceritakan sebuah kehidupan yang juga ditampilkan dalam layar tv.<\/p>\n<p>Di sebelah karya Melati, karya seniman asal Solo, Aditya Novali berjudul \u201cThe Wall: Asian (Un) Real Estate Project (2013)\u201d berukuran 365 cm x 180 cm x 25 cm menceritakan sebuah apartemen yang berada di luar negeri dengan dua pemikiran orang luar negeri tentang apartemen. Yang pertama kalau tinggal di apartemen seperti kita menginap di apartemen pada umumnya, dan yang kedua pemikiran kalau tinggal di apartemen seperti di penjara.<\/p>\n<p>Aditya menggambarkannya dengan membuat 126 kotak yang berisi kamar apartemen tersebut. Uniknya pada kotak-kotak yang terdapat pada karya tersebut memiliki tiga bagian yang bisa diputar. Sofyan pun kemudian memutar bagian dari lukisan yang hanya bergambar tembok, yang setelah diputar terdapat gambar kamar penjara, dan di putar lagi terdapat gambar kamar tidur biasa.<\/p>\n<p>Yang terakhir Sofyan memperlihatkan sebuah lukisan terfavorit karya seniman Jakarta, yakni Windi Apriani yang berjudul \u201cEre Dim (2019)\u201d berukuran 230 cm x 190 cm dengan media arsiran ballpointpen di canvas. Lukisan tersebut menceritakan ke-detailan bagaimana si pelukis tersebut membuat karyanya. Nindi menurut Sofyan merupakan seniman yang tipikalnya tidak mau di \u2018deadline\u2019 dalam menciptakan karya lukisnya.<\/p>\n<p>Mengingat suasana museum ini sangat instagenic, jangan lupa sebelum keluar dari museum sempatkan untuk berfoto dengan beberapat karya seni yang ada. Untuk ber-swafoto pengunjung diberikan waktu selama 15 menit. (evi)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SOLO, ITN- Sejak diresmikan pada awal April 2018 lalu, Tumurun Private Museum kini menjadi kebanggaan masyarakat Solo. Museum ini menjadi perbincangan para pecinta seni di Indonesia serta menambah deretan museum seni yang mulai bermunculan di Indonesia. Sesuai dengan nama museumnya, museum ini tidak dibuka secara publik untuk umum. Dikarenakan museum tersebut museum private milik Iwan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11816,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[66,1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-11815","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-museum","8":"category-perjalanan-wisata"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/11815","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/comments?post=11815"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/11815\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media\/11816"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media?parent=11815"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/categories?post=11815"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/tags?post=11815"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}