{"id":11050,"date":"2019-09-25T11:02:39","date_gmt":"2019-09-25T04:02:39","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/?p=11050"},"modified":"2019-09-25T11:32:35","modified_gmt":"2019-09-25T04:32:35","slug":"mengenal-tanah-muntok-barat-dengan-keaslian-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/hiburan\/senibudaya\/mengenal-tanah-muntok-barat-dengan-keaslian-sejarah\/","title":{"rendered":"Mengenal Tanah Muntok Barat dengan Keaslian Sejarah"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANGKA BARAT, ITN<\/strong> \u2013 INDONESIA kaya akan budaya dan sejarah dari Sabang hingga Merauke. Daya tarik wisatawan datang ke destinasi di Indonesia bukan hanya dari sisi keindahan semata, melainkan bisa didapatkan dari wisata sejarah. Hal inilah menjadi kekuatan Muntok, Bangka Barat dalam menggaet wisatawannya.<\/p>\n<p>Ternyata, sejarah keaslian Indonesia banyak tersimpan di wilayah tersebut. &#8220;Di Bangka Barat terdapat satu wilayah, yakni Muntok tersimpan sejarah yang menarik guna diketahui wisatawan. Salah satunya, pengasingan Soekarno-Hatta selain memiliki kapal laut milik Jepang yang karam akibat perang dunia kedua,&#8221; ujar Ketua Mentok Heritage Community (MHC) Chairul Amri Rani kepada media famtrip Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) di muntok, Bangka Batat, Selasa malam (24\/9\/19).<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"alignleft size-full wp-image-11051\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/09\/20190924_210510-e1569383569964.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"525\">Lebih lanjut ia mengatakan, &#8220;Nama Muntok atau Mentok bila dilihat dari manu skrip yang ada yang ditulis dari terhubungnya Pulau Bangka dan Palembang di di tahun 1825 hingga 1879 ketika istri Sultan Mahmud Badaruddin kala ditanya nanti keluarga tinggal di mana, kemudian mencari tempat di Bangka dan mendapat tempat yang cocok. Disebut itu Men etu cem mana. Men dan mun itu sama saja, orang Bangka terbiasa bilang seperti itu, pangkal pinang biasa bilang mun, mun atau men itu artinya kalau. Men etu cem mana dekat tanjung yang kelihatan dan itu cikal bakal terbentuknya tanjung kalian&#8221;.<\/p>\n<p>&#8220;Men atau mun itu sama saja dalam penyebutan muntok, ibaratnya pengucapan Yogyakarta dan Jogjakarta,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Menurutnya Bung karno dalam catatan dengan Cindy Adam sebagai penyambung lidah rakyat, bahwa di Muntok ada pemuda berusia 29 tahun dinikahkan oleh Soekarno namanya Yusuf Rasidi dan menjadi presiden Bangka ketika Republic Indonesia Serikat. Saat itu, menjadi Republik Indonesia Serikat di mana terdapat 7 negara bagian ditambah 9 daerah \u2013 daerah otonom.<\/p>\n<p>\u201cBangka termasuk dalam daerah otonom tersebut yang dipimpin oleh presiden tersebut meskipun usianya sangat pendek dari 27 Desember 1949 hingga 17 Agustus 1950 bubar dan berdirilah negara kesatuan Republik Indonesia,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>&#8220;Kala itu Yusuf rasidi dicomblangkan oleh Soekarno dan saat menikah kala itu dipromotori Soekarno dan Soekarno lah yang nmencarikan gelas 5 ribu dengan meminjam tauke-tauke yang kemudian menyelenggarakan pernikahan,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p><span style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-11052 aligncenter\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/09\/20190925_105540.jpg\" alt=\"\" width=\"1080\" height=\"766\" srcset=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/09\/20190925_105540.jpg 1080w, https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/09\/20190925_105540-300x213.jpg 300w, https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/09\/20190925_105540-1024x726.jpg 1024w, https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/09\/20190925_105540-100x70.jpg 100w, https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/09\/20190925_105540-696x494.jpg 696w, https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/09\/20190925_105540-1068x757.jpg 1068w, https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/09\/20190925_105540-592x420.jpg 592w\" sizes=\"(max-width: 1080px) 100vw, 1080px\" \/>Yusuf Rasidi menurutnya dititipkan sebuah bungkusan yang berupa bendera oleh Soekarno sampai satu hari sebelum\u00a0\u00a0Soekarno balik ke Yogyakarta kemudian bendera dibuka. Jangan lupakan lagi draft perundingan roem royen yang ditandatangani\u00a0\u00a07 mei 1949, di sini perundingan yang alot terpaksa menghadirkan Bung Hatta ke Jakarta, terpaksa juga menghadirkan Sri Sultan Hamengkubuwono ke-9 ke Jakarta pada saat itu menjadi penguasa Yogyakarta dan beliau menjadi penjamin kemunduran pasukan belanda di Yogyakarta dengan baik.<\/span><\/p>\n<p>Kemudian, Sultan Hamengkubuwono ke-9 ikut dengan Bung Hatta ke Bangka dan menginap di pesanggrahan selama tiga hari kala itu terjadi di 1970-an, kala itu Hamengkubuwono ke-9 menjadi wakil presiden, oleh karenanya disitu ada asrama mahasiswa Bangka yang berada di lingkungan keraton, ternyata istri hamengkubuwono ke-9 yang terakhir adalah orang Muntok.<\/p>\n<p>DIakuinya lagi, histori Indonesia kian lengkap. Di mana, terdapat catatan penting di nasional yang berhubungan penting dan kuat dengan Muntok, ada sebuah tugu di depan Wisma Ranggam yang sebetulnya mencontek tugu peringatan satu tahun kemerdekaan Indonesia di pegangsaan timur\u00a0\u00a0yang kemudian dipindahkan tapi orang Muntok malah mencontek itu, dibangun hanya sebuah tugu petir yang menandakan berdirinya soekarno tapi tugu peringatan itu di Muntok ditiru.<\/p>\n<figure id=\"attachment_11057\" aria-describedby=\"caption-attachment-11057\" style=\"width: 700px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-11057\" src=\"https:\/\/indonesiatripnews.com\/files\/2019\/09\/20190925_110359-e1569385861488.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"525\"><figcaption id=\"caption-attachment-11057\" class=\"wp-caption-text\">Pesanggrahan BankaTinwinning. (foto itn\/evi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>\u201cKedatangan Hatta tahun 1951, saat itu Hatta menandatangani yang kemudian menjadi bagian dari prasasti tersebut yang isinya Bangka, Yogyakarta, Jakarta Hidup Pancasila Bhinneka Tunggal Ika dan itulah arti pentingnya tiga kota itu,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, &#8220;Di kesan dan pendapat hatta tanggal 2 juli 1949 di bagian motto paling bawah ditandatangani oleh bu meutia sebagai prasasti sebagai monumen, motto yang dibuat hatta sangat relevan hingga kondisi hari ini yang isinya daripada sekedar mencari kekuasaan semata tugas seorang pemimpin dalam demokrasi adalah mendidik dan mencari penggantinya hanya dengan itu kelangsungan organisasi dapat terjadi dan itulah yang menjadi bekal Muntok sebagai wisata kebangsaan yang ada di Bangka Barat&#8221;.<\/p>\n<p>Sementara pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Fadjri Jagahitam menambahkan bahwa Propinsi Bangka Belitung sangat mendukung apalagi Propinsi menetapkan induk pariwisata dari Bangka Barat yang sudah menguatkan destinasi sejarah.<\/p>\n<p>&#8220;Wisatawan yang ingin melihat sejarah bisa datang ke Bangka Barat, sedangkan Bangka Tengah lebih kepada agrowisata, wisata minat khusus termasuk KEK di dalamnya, wisata bahari karena banyak terdapat beberapa pulau, hutan mangrove, lalu ada pula Bangka Selatan juga ada wisata bahari banyak spot diving, sejarah juga ada tapi tidak sebanyak di Bangka Barat. Terakhir, ada di Kabupaten Bangka terdapat wisata bahari, keindahan pantai, paling dikenal adalah dari sisi spot tourism,\u201d ujarnya lebih lanjut.<\/p>\n<p>Fadjri menambahkan, &#8220;Wisatawan mancanegara khususnya dari Eropa seperti Belanda, Jerman maupun Australia menjadi incaran Bangka Barat untuk nilai sejarah Indonesia&#8221;. (evi)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANGKA BARAT, ITN \u2013 INDONESIA kaya akan budaya dan sejarah dari Sabang hingga Merauke. Daya tarik wisatawan datang ke destinasi di Indonesia bukan hanya dari sisi keindahan semata, melainkan bisa didapatkan dari wisata sejarah. Hal inilah menjadi kekuatan Muntok, Bangka Barat dalam menggaet wisatawannya. Ternyata, sejarah keaslian Indonesia banyak tersimpan di wilayah tersebut. &#8220;Di Bangka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11054,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[84,83,124],"tags":[],"class_list":{"0":"post-11050","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-berita","8":"category-senibudaya","9":"category-wisata"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/11050","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/comments?post=11050"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/posts\/11050\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media\/11054"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/media?parent=11050"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/categories?post=11050"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiatripnews.com\/jason\/wp\/v2\/tags?post=11050"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}