JAKARTA, ITN- BERAWAL dari keprihatinan maraknya benturan politik, sara, dan masih banyaknya masyarakat Indonesia yang belum mengetahui busana atau pakaian daerah di tiap provinsi Indonesia, menjadi keprihatinan Yayasan Kemala Bhayangkara (YKB) untuk meluncurkan buku bertema Kreasi Busana Daerah Indonesia Warisan Nusantara.

YKB merupakan sebuah wadah berbasis yayasan yang didirikan pada 5 Mei 1980, dengan dasar karena adanya rasa tanggungjawab, rasa senasib sepenanggungan, persaudaraan, persatuan dan kesatuan sebagai istri anggora Polri (Bhayangkari).

“Buku ini merupakan hasil kerja keras luar biasa dari adik-adik kepengurusan Bhayangkari Polda Metro Jaya dan akan tetap menjadi warisan untuk Indonesia. Terdapat 45 suku dari ribuan etnik yang berada di Indonesia, meskipun hanya sedikit namun mempunyai dasar yang kuat yang sebetulnya hal tersebut merupakan sebuah kesulitan untuk terbitnya buku ini,” ujar Ketua Pembina YKB, Tri Tito Karnavian pada acara Diskusi dan Peluncuran Buku Kreasi Busana Daerah Indonesia Warisan Nusantara di Balai Pertemuan Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Jumat (30/11/18).

Diskusi dan Peluncuran Buku Kreasi Busana Daerah Indonesia Warisan Nusantara di Balai Pertemuan Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Jumat (30/11/18). Foto Muara Bagja

Membuat buku ini menurutnya bukanlah suatu hal yang mudah karena ternyata perlu adanya persetujuan dari masing-masing daerah. Namun yang perlu digaris bawahi, buku ini tidak mewakilkan suatu provinsi, karena di satu provinsi itu memiliki bermacam-macam baju adat, dan buku ini hanya menampilkan satu macam dari masing-masing provinsi tersebut.

Yang unik anak-anak dilibatkan untuk menjadi model dalam membawakan busana daerah tersebut. “Saat proses pemotretan persiapan buku, anak-anak melakukannya dengan hati riang dalam suasana bermain, sambil belajar tentang asal-usul busana, cara memakai, sampai kegunaannya. Dengan begitu mereka bisa belajar tanpa rasa beban,” ungkapnya.

Tri Tito berharap untuk penulis-penulis kedepannya agar membuat sebuah buku yang lebih lengkap yang berisikan perwakilan tiap-tiap Provinsi. Di dalam buku ini menjelaskan bukan hanya sekedar busana, namun memiliki cerita historis yang mendalam tentang masing-masing busananya serta cerita-cerita sejarah daerah dengan gambar-gambar visual yang memanjakan mata setiap pembacanya.

“Dengan adanya zaman E-book pada era sekarang ini, menulis buku fisik seperti ini, bisa dijadikan hadiah. Sangatlah berharga dan alangkah baiknya menghadiahkan anak-anak tercintanya dengan buku busana budaya seperti ini,” ujarnya yang berharap tidak menutup kemungkinan juga untuk menerbitkan versi E-booknya di kemudian hari.

Foto. muara bagja

Tak hanya itu menurutnya ada kemungkinan untuk pembuatan jilid kedua dan seterusnya yang lebih lengkap dan menarik  lagi.

Sementara dari pandangan perancang busana, Didiet Maulana mengatakan, “Buku ini benar-benar memanjakan mata, foto-fotonya yang bagus, isinya yang sangat informatif, memberikan nilai yang tak terhingga pada buku ini”.

‘’Buku dengan tebal 278 halaman ini merupakan shortcut karena dapat merangkum bermacam-macam info tentang adat istiadat hanya dengan membaca buku ini, ungkapnya.

Menurutnya, generasi saat ini merupakan generasi show-off, dimana saatnya untuk pamer yaitu pamer budaya. Buku-buku seperti ini dirasa sangat perlu untuk di kembangkan karena sebenarnya buku yang bertemakan seperti ini memiliki segi komersial yang sangat menguntungkan, Ibu Tito berharap pemerintah daerah termotivasi untuk membuat buku-buku seperti ini. (brilli/sishi)