JAKARTA, ITN- Sebanyak 38 karya Srihadi Soedarsono hari ini mulai dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat pada 11 Maret-9 April 2020. https://indonesiatripnews.com/profil/seniman/didampingi-sang-istri-srihadi-soedarsono-terus-berkarya/

Indonesiatripnes.com berkesempatan untuk menelusuri rangkaian karya Srihadi yang menarik sekaligus menantang untuk dikaji. Lukisan Srihadi menempatkan lapisan makna konteks, metaphor, dan simbol dalam gubahan representasi estetik yang subtil sehingga perlu diamati dan diresapi baik dari masing-masing karya maupun secara keseluruhan sebagai sebuah rangkaian konfigurasi yang saling berhubungan.

“Ada empat aspek utama dalam seri karya-karya landscape Srihadi pada pameran tunggalnya yang bertajuk ‘Srihadi Sodarsono-Man x Universe’, yakni pertama sebuah paradoks ‘keindahan’ dalam realitas di bangsa ini, sosial dan politik,” ujar kurator pameran, Dr A Rikrik Kusmara, MSn saat menjelaskan karya Srihadi di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Rabu (11/3/2020).

Kurator pameran, Dr A Rikrik Kusmara, MSn saat menjelaskan karya Srihadi di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Rabu (11/3/2020). Foto. ibonk

Baca juga: https://indonesiatripnews.com/hiburan/karya-pelukis-maestro-srihadi-soedarsono-man-x-universe-akan-digelar-di-galeri-nasional-indonesia/

Hal itu terlihat dari karya Srihadi yang berjudul “Bandung Jelita 1-Kepadatan Penduduk” (1986), “Bandung Jelita 2- Ledakan Pemukiman” 2019, dan “Jakarta Megapolitan-Patung Pembebasan Banjir” (2020).

Lebih lanjut pria yang menyelesaikan pendidikan doktor di ITB ini menjelesakan pada fase kedua, Srihadi menuangkan cara pandang pada realitas di atas mendorong gejolak dalam proses artistik Srihadi. Fase ini dalam proses kreatif seperti masa “inkubasi” yang ditandai dengan “pencarian” tanda-tanda yang mampu menghadirkan dinamika proses tersebut, terlihat dalam karyanya, diantaranya “Mt Merapi-the Powerful Nature” dan “Mt Semeru-The Legent of Ancient Myth”.

Pada fase ketiga, karyanya muncul dalam momen renungan diri (eksistensi) dengan mengamati aspek manusia dalam budaya dan alam, tampak dalam dialog intens ‘dalam jarak’ antara manusia, kebudayaan serta alam.

Menurutnya struktur seri karya-karya ini mempresentasikan budaya dan alam, dalam komposisi unsur atau simbol budaya yang digambarkan secara kecil dalam bentang alam luas namun hadir sangat esensial.

“Dan yang keempat adalah momen kontemplasi, pada seri karya ini Srihadi menempatkan representasi Borobudur dalam landscape sebagai simbol puncak proses kontemplasi dan spiritualitas. Simbol religius ini merupakan eksistensi yang kompleks dalam budaya Indonesia, seperti proses meditasi merenungkan manusia dalam alam semesta,” ungkapnya.

Jakarta Megapolitan – Patung Pembebasan Banjir

Jakarta Megapolitan – Patung Pembebasan Banjir (2020, 128 x 205 cm) merupakan karya terbaru yang diproduksi Srihadi. Karya dengan didominasi warna merah ini menyorot bencana banjir besar yang menimpa Jakarta dan wilayah sekitarnya pada 1 Januari 2020.

“Jakarta Megapolitan-Patung Pembebasan Banjir” (2020). (foto. evi)

Air yang menenggelamkan Jakarta divisualkan berwarna merah, bergolak, dan menutup tungkai bawah patung Pembebasan Irian Barat. Latar belakangnya gedung-gedung pencakar langit yang tetap gemerlap oleh lampu, sementara di langit ada gerhana matahari cincin, peristiwa alam yang terjadi sepekan sebelum banjir.

Patung Pembebasan Irian Barat menjadi Patung Pembebasan Banjir bukanlah sekadar plesetan. Ada kekhawatiran besar di sana. Kalau banjir terus bertambah volumenya, merembet terus menaiki kaki patung, bisa-bisa Pulau Jawa sudah tidak kelihatan. (evi)