JAKARTA,ITN– Sebanyak 37 insan kreatif yang ikut serta menjadi peserta dinyatakan lulus dalam Pelatihan Daring Homecreativepreneur yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pelaku ekonomi kreatif di bidang digital marketing selama masa pandemi COVID-19.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menyelenggarakan pelatihan daring Homecreativepreneur selama 2 bulan (Mulai Bulan Mei hingga Juni 2020) dan secara resmi ditutup pada 1 Juli 2020.

Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekonomi Kreatif (Direktur PSDM EKRAF), Muhammad Ricky Fauziyani, S.Sos, M.Pd saat Penutupan Pelatihan daring Homecreativepreneur, mengatakan proses pelatihan daring Homecreativepreneur semata-mata bukan hanya untuk meningkatkan kompetensi hard skill tetapi juga kompetensi soft skill dalam menghadapi bisnis di era digital. Artinya, keterampilan teknis yang canggih perlu diharmonisasikan dengan kompetensi soft skill yang mumpuni.

“Dari 100 peserta pelatihan, 37 peserta dinyatakan lulus. Adapun indikatornya adalah telah menyelesaikan seluruh tugas materi, menggunakan kaidah SEO, dan aktif dalam diskusi pendampingan. Peserta yang lulus mendapat sertifikat dan akan direkomendasikan dalam program-program lain Direktorat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekraf,” Kata Muhammad Ricky Fauziyani,Rabu (1/7/2020).

Pelatihan daring Homecreativepreneur merupakan inisiasi yang dilakukan Kemenparekraf bagi para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) yang terdampak pandemi COVID-19. Hal ini dilakukan, agar pelaku ekonomi kreatif dapat memanfaatkan media digital secara optimal untuk memasarkan produknya.

Pelatihan daring Homecreativepreneur menekankan pada pengembangan bisnis melalui website dengan memanfaatkan kaidah SEO (Search Engine Optimization). Pada pelatihan daring Homecreativepreneur dilaksanakan dengan metode pembelajaran melalui video materi, artikel, tools SEO dan website, serta program pendampingan kepada peserta selama pembelajaran berlangsung.

Terdapat 10 materi yang diberikan selama pelatihan. Adapun pencapaian para peserta adalah peserta sudah memiliki website berdomain resmi yang memiliki feature media chat, video, content, dan menggunakan kaidah SEO untuk meningkatkan trafik pengunjung.

Salah satu peserta bernama Arief Susanto menyampaikan kesan yang mendalam setelah mengikuti pelatihan daring Homecreativepreneur.

“Alasan saya mengikuti pelatihan ini karena Kemenparekraf memberikan materi berupa SEO (Search Engine Optimization), lalu bagaimana cara membangun website yang bekerja sama dengan primal.id dan goget editor, ini salah satu pelatihan yang sangat bagus,” ujar Arief Susanto.

Arief menambahkan lebih lanjur pada masa pandemi COVID-19 dirinya merasa sangat perlu meningkatkan kemampuannya terlebih dalam pengetahuan terkait cara memperkenalkan bisnis pelaku ekonomi kreatif ke dunia digital. ”Dan ini merupakan kegiatan yang sangat positif yang menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada insan kreatif dan UMKM,” tambah Arief.

Senada dengan yang disampaikan Arief, , Yosica Ferinda peserta asal Balikpapan, mengatakan jika ia mendapatkan banyak ilmu dari pelatihan ini. “Salah satunya bagaimana cara membangun sebuah website yang menarik untuk berbisnis di era digital dengan metode yang mudah dipahami serta mempelajari apa yang diinginkan pasar atau membidik target market. Saya berharap semakin banyak UMKM yang bisa mengikuti pelatihan seperti ini,” ungkap Yosica.

Yosica menambahkan dengan menyampaikan terima kasih karena ia telah mendapatkan peluang untuk mengikuti pelatihan yang memungkinkan dirinya dapat memperluas jaringan termasuk dengan rekan peserta pelatihan daring Homecreativepreneur.

“Karena mengenal mereka saya jadi terpacu untuk mempelajari hal-hal baru dan saya berharap kita dapat menjalin kerja sama bisnis ke depan,” tutup Yosica.

Terlaksananya pelatihan daring Homecreativepreneur diharapkan dapat memberikan solusi bagi pelaku ekonomi kreatif di Indonesia pada masa pandemi, dimana pelaku ekonomi kreatif diharapkan dapat meningkatkan kualitas serta kompetensinya sehingga mampu melakukan transformasi digital dalam meningkatkan skala usahanya. (Sha)