JAKARTA, ITN– SAINS merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai fenomena alam sehingga rahasia yang dikandungnya dapat diungkap dan dipahami. Dalam usaha mengungkap rahasia alam tersebut, sains melakukannya dengan menggunakan metode ilmiah.

Seiring dengan perkembangan teknologi digital yang sangat pesat, PT Kalbe Farma Tbk mendorong banyak talenta muda untuk menciptakan karya sains digital sendiri melalui kegiatan Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) Goes Digital. KJSA telah digelar sejak 2011, menghadapi revolusi 4.0 di tahun KJSA bertransformasi menjadi lomba karya sains yang memanfaatkan unsur teknologi digital di dalamnya.

“Kami tertarik untuk mengembangkan inovasi yang dimulai sejak usia dini, selain tentunya budi pekerti. Kami ingin anak-anak Indonesia dari awal sudah membiasakan dengan inovasi dan berfikir kreatif. Dengan demikian anak-anak Indonesia kedepannya akan menjadi inovator,” ujar Direktur R&D Kalbe Group, Pre Agusta pada acara Diskusi Media “Sains Digital dari dan untuk Anak Indonesia” yang digelar Forum Ngobras bersama PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Jumat (6/9/19).

Jenis teknologi digital tidak dibatasi, mulai dari penggunaan alat bantu yang termasuk komputerisasi automasi, programming, misalnya penggunaan tombo, sensor remote control,chip, micro-contoller, micro-bit, dan lain-lain. Untuk lebih mengetahui lomba KJSA dapat dilihat di www.kalbe-kjsa.com.

Kini seseorang tidak hanya dituntut untuk memiliki keterampilan di sebuah bidang, tapi juga kemampuan menciptakan serta berinovasi. Inovasi digadang-gadang menjadi kunci kesuksesan.Terutama jika melihat lapangan pekerjaan yang ada sekarang sebagian besar merupakan buah dari inovasi.

“Menurut sebuah penelitian tahun lalu, 65 persen dari anak yang duduk di bangku SD nantinya mengerjakan apa yang hari ini bidangnya belum ada. Hanya 35 persen pekerjaan yang tersisa,” jelas pengamat dan praktisi pendidikan dan sains, Indra Charismiadji.

Indra mengatakan, “Saat ini dunia sudah bergeser ke arah kecepatan teknologi, kreativitas, dan inovasi. Namun pertanyaannya, apakah di masa mendatang anak-anak sudah siap? Di sinilah cara mendidik orang tuanya harus berubah”.

Menurutnya pola pendidikan anak sekarang  berbeda dengan era pendididikan dulu, untuk jadi anak patuh. Kalau sekarang untuk menjadi anak sukses harus menjadi anak yang tidak patuh. “Tantangan terbesar, selain kebijakan pemerintah, diperlukan juga pola pikir dan mindset orang tua yang diubah dan diedukasi, karena ini jadi bagian pembangunan manusia,” ungkapnya.

“Di sekolah sudah bagus, di rumah orang tuanya beda lagi. Misalnya di sekolah didorong pakai gadget, di rumah nggak boleh pakai gadget,” ungkapnya.

Indra mengatakan, “Anak yang kreatif merupakan ujung tombak untuk negara yang lebih maju, Karena kreativitas merupakan bagian yang penting dalam inovasi dan ini sudah mengalir dalam darah bangsa Indonesia”.

Terlihat dari kebudayaan nenek moyang kita seperti banyaknya rupa rumah adat dan juga tarian tradisional. Akan tetapi semua itu seolah terlupakan ketika kita mengenal konsep sekolah formal yang membuat kita berpikir seragam.

Kita harapkan anak-anak bisa berpikir kreatif dan inovatif. Dengan demikian, mereka bisa menghasilkan barang-barang yang bermanfaat untuk masyarakat,”

“Melalui KJSA ini diharapkan dapat melahirkan bakat-bakat ilmuwan sains digital anak yang kelak bisa membawa harum nama bangsa Indonesia. Tak hanya itu diharapkan anak-anak bisa berfikir kreatif dan inovatif sehingga bisa menghasilkan barang-barang yang bermanfaat untuk masyarakat,” tutup Pre Agusta.

Pada kesempatan tersebut hadir Muhammad Hafizh Bayhaqi (12 tahun), seorang anak yang berhasil merancang aplikasi mobile “Good Math”.

Hafizh membuat aplikasi tersebut lantaran dirinya ingi teman-temannya pintar belajar matemetika melalui aplikasi yang dibuatnya. “Biar pada suka belajar matematika, saya buat kuiz dulu di aplikasi ini,” ungkapnya. (evi)