SUMUT, ITN- Danau toba sebagai danau vulkanik terluas di dunia mempunyai nilai histori yang panjang dalam peradaban manusia, kawah gunung yang terbentuk dalam tiga kali letusan  di tujuh puluh lima ribu tahun yang lalu.

Baca https://indonesiatripnews.com/gaya-hidup/olahragarekreasi/ural-28-jakarta-gelar-ekspedisi-kayak-pelajar-indonesia-2-di-danau-toba/

Danau Toba yang pada tahun lalu di nobatkan  oleh UNESCO sebagai warisan dunia Caldera Geopark, menjadikan danau volcano terbesar sebagai warisan dunia yang wajib dilestarikan oleh seluruh masyarakat Indonesia dan dunia.

Banyak wisatawan lokal bahkan manca negara yang berkunjung ke Danau Toba, ada beberapa dari mereka yang menjadikan Danau Toba sebagai kunjungan wisata budaya, pendidikan, petualangan, dan bisnis di bidang pariwisata.

Selain pemandangannya yang indah Danau Toba juga membuat para wisatawan betah berlama-lama berada disini. Sudah banyak wisatawan yang melakukan perjalanan ekspedisi di Danau Toba, ada yang menggunakan sepeda, motor trial, kayak, dan solu.

Komar Buton atau yang biasa disapa Marco berasal dari Desa Wamlana Kabupaten Buru,  Maluku adalah salah satu alumni dari Perguruan Tinggi MPU Tantular, Jakarta. Saat ini Komar sedang melaksanakan ekpedisi lingkar luar danau Toba dengan menggunakan perahu Solu.

Solu adalah perahu kecil sebagai alat transportasi yang biasa digunakan oleh penduduk di sekitaran Danau Toba. Marco juga sebagai penggiat olah raga dayung di salah satu Komunitas Pencinta Alam UMTALA 1988. Ia juga pernah menangani operator wisata arung jeram yang berada di desa Cianten Bogor, Jawa Barat.

Ekpedisi bertajuk ekspedisi Solu Solu Toba Nauli 2021 lingkar luar Danau Toba, dengan kegiatan Xpdc ini  menempuh perjalanan yang cukup lama, yakni mulai 1 juni hingga 20 juli 2021. Ekpedisi ini melewati 16 desa yang berada di pesisir Danau Toba  yang berjarak 300 Km.

Solu biasanya digunakan sebagai transportasi penduduk lokal dan berguna untuk transportasi pencari ikan di seputaran Danau Toba. “Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan suatu informasi kepada khalayak luas dengan skala potensi yang sangat kompleks, yakni mempromosikan Solu sebagai wahana wisata air dan juga melestarikan budaya bahari yang ada di Danau Toba khususnya dan Indonesia pada umumnya” ujar Marco.

Marco mengatakan, ‘’Dalam Xpdc ini juga bertujuan mengumpulkan data potensi destinasi wisata yang berada di seputaran danau Toba, menggali nilai-nilai luhur adat istiadat masyarakat danau Toba’’, selain mengkampanyekan kelestarian lingkungan yang ada di danau Toba , dalam ekspedisi ini Marco juga  mencari pemuktahiran data kondisi perairan danau Toba terkini’’

Dalam ekspedisi ini juga Marco ingin memecahkan rasa penasarannya  melihat langsung karakter masyarakat Danau Toba yang katanya perairan Danau Toba yang seram dan masyarakatnya yang sangar. ‘’Saya sangat kaget saat berbaur dengan masyarakat di Danau Toba karakternya sangat berbeda dari yang saya dengar di masyarakat luas diluar Toba”.

Masyarakat di Danau Toba menurutnya  sangat ramah dengan alamnya yang sangat indah.  Marco juga ingin mengajak masyarakat diseputaran Danau Toba untuk selalu menjaga kearifan lokal dan menjaga kelestarian alam yang indah anugerah Tuhan.

Selain di dukung Komunitas Dayung PODSI Kabupaten Toba, perjalanan ekspedisi Marco juga didukung Penggiat Wisata Kayak Danau Toba dan seluruh penduduk yang berada di pinggiran Danau Toba. (Tommi Sembiring, Penggiat Wisata Kayak Danau Toba)