JAKARTA, ITN- Mengatur pola makan merupakan upaya agar penderita Diabetes Melitus (DM) dapat mengontrol gula darah. Tujuannya agar penderita dapat hidup sehat dan terhindar dari komplikasi.

Pengaturan pola makan atau diet mengatur asupan yang tepat sehingga Indeks Glikemik (IG) nya rendah alias gula darah terkontrol. “Supaya gula darah pasien tidak tinggi terus menerus. Supaya, gula darah pasien dapat terkontrol,” ujar Aziza Ainun Assiddiq, ahli gizi dalam talk show daring  dalam Series Diabetes dengan tema Pola Makan dan Pengaturan Menu, yang digelar Asah Kebaikan, Sabtu (26/6/2021).

Baca https://indonesiatripnews.com/gaya-hidup/pencegahan-dan-pengobatan-untuk-penderita-diabetes-melitus/ 

IG merupakan angka yang menunjukkan nilai potensi peningkatan gula darah. Pengaturan pola makan yang tepat kerap diistilahkan 3J yaitu jenis makanan, jumlah, dan jadwal makanan.  Jenis makan dilakukan dengan memilih jenis makanan yang tepat, dengan kata lain indeks glikemik yang rendah.

Jumlah kalori  yang masuk ke dalam tubuh ditentukan berdasarkan umur, jenis kelamin, aktivitas, kondisi fisik dan kesehatan. Sedangkan, jadwal makan yang teratur yaitu makan utama 3 kali dan diselingi camilan sehat 2-3 kali.

“Usahakan jadwal makannya setiap harinya sama agar sesuai dengan waktu makan obat atau mendapatkan insulin. Ada kaitannya dengan glukosa darah yang harus dicover oleh obat atau insulin,” jelasnya.

Baca  https://indonesiatripnews.com/gaya-hidup/kesehatan/empat-pilar-penanganan-pasien-diabetes/

Lebih lanjut, dia mengatakan makan utama idealnya, makan pagi pada pukul 06.00 sampai 09.00, makan siang pada pukul 12.00 sampai 15-00 dan makan malam pukul 18.00 sampai 20.00. Sedangkan, snack pagi pukul 10.00 sampai 11.00 dan snack sore pukul 16.00 sampai 17.00. 

Selain memperhatikan IG, pasien DM juga perlu memperhatikan beban glikemik atau Glikemik Load, yakni nilai yang menunjukkan respon glukosa dalam darah setelah mengkonsumsi satu porsi makan. “Jadi beban glikemik ini berkaitan dengan kuantitas yang dimakan,” ungkapnya.

Sebagai contoh IG nya rendah namun porsi atau kuantitas makan banyak, pola konsumsi makan tersebut akan meningkatkan beban glisemik. Sehingga walaupun nilai IG makanan rendah namun tidak dapat dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Porsi makan yang dikonsumsi harus sesuai dengan kebutuhan.

Diet DM tidak dapat dilakukan sesuka hati. Diet pasien DM memiliki sejumlah syarat yang terkait dengan kondisi masing-masing pasien. Seperti, energi diukur dengan berdasarkan kebutuhan basal. Adapun, kebutuhaan basal wanita 25 kilokalori (kkal) per kg berat badan (BB)  ideal. Pria memiliki kebutuhan 30 kkal per kg BB ideal. Namun supaya mendapatkan nilai akurat, penderita DM perlu berkonsultasi dengan ahli gizi. Karena, diet mempertimbangkan faktor tinggi badan, berat badan, aktivitas dan adanya komplikasi 

Kebutuhan lainnya berupa karbohidrat sebanyak 45 sampai 65 persen dari total asupan energi. Lemak sebanyak 20 sampai 25 persen kebutuhan kalori. Lemak dibagi menjadi lemak jenuh <7 persen kebutuhan kalori , lemak tidak jenuh ganda <10 persen sedangkan kolesterol< 200 mg/hari. Adapun, kebutuhan protein sebanyak 10 sampai 20 persen kebutuhan energi. Natrium sebanyak <2300 mg/hari atau  <1 sdt garam dan serat  sebanyak 20 sampai 25 gram.

Penderita juga perlu mengatur asupan beberapa makanan, yaitu makanan dengan IG rendah supaya gula darah tidak cepat naik. Karena, makanan dengan IG tinggi, gula darah akan cepat naik. Beberapa makanan yang perlu pembatasan konsumsi (IG sedang (55-70)), yaitu serialia (beras brasmati, roti tawar putih, spageti direbus selama 20 menit), sayur (jagung manis dan ubi jalar), buah (papaya, nanas dan melon), susu dan olahannya (susu bubuk dan es krim), minuman (coca cola, Fanta), gula dan pemanis (gula pasir, gula jawa, dan madu) serta makanan olahan (dodol).

Adapun, makanan yang perlu dihindari adalah makanan yang GI nya tergolong tinggi atau di atas 70. Jenis makanan tersebut , yaitu serealia (beras putih, roti tawar gandum, cracker dan waffle), sayur (kentang panggang, kentang rebus, kentang goreng), buah (semangka), gula dan pemanis (glukosa, sirup, susu kental manis) dan makanan olahan (abon, dendeng, sarden).

Dari sejumlah makanan yang dibatasi dan dihindari, dalam program diet, Aziza mereferensikan makanan yang boleh dikonsumsi. Makanan tersebut berupa serealia (beras cokelat, bihun), roti-rotian (cookies oatmeal), sayur (wortel, kacang polong, ketela), kacang-kacangan (kacang merah, kedelai, kacang-kacangan), buah (apel, anggur, mangga, jeruk, pir, pisang), susu dan olahannya (susu skim/rendah lemak) dan minuman (jus apel, jus jeruk).  

Sebagai contoh, berikut pengaturan menu makan dalam sehari. Menu yang telah mengandung karbohidrat, protein hewani, protein nabati serta sayur dan buah. Menu ini memiliki kandungan energi total sebanyak 1700 kkal. Kandungan gizi berupa karbohidrat sebesar 275 g, protein sebesar 55 g dan lemak sebesar 36 g.  (evi)