JAKARTA, ITN– Diabetes melitus (DM) tipe 2 ibarat fenomena gunung es. Hanya kelihatan puncaknya saja, di bagian dasar masih banyak juga penderita diabetes yang tidak sadar menderita diabetes atau memang belum terdiagnosis penyakit yang belum bisa disembuhkan ini.

Prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 6,2 persen, artinya 10,8 juta orang menderita diabetes per tahun 2020, angka ini akan meningkat per tahun 2045, demikian proyeksi Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni).

Menurut Aluwi Nirwana Sani, apoteker yang mendalami farmasi klinis, diabetes merupakan penyakit yang belum dapat disembuhkan tetapi dapat dikelola agar tidak meningkat menjadi komplikasi yang menimbulkan kecacatan yang bersifat menetap.

“Caranya adalah dengan disiplin menjaga gula darah agar tetap terkontrol di kisaran target. Mengingat kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan saraf dan memperkeras dinding pembuluh darah,” ujar apoteker lulusan Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dalam webinar dengan topik strategi pencegahan dan pengobatan DM tipe 2 yang digelar Asah Kebaikan, belum lama ini.

Kadar gula darah yang tidak terkontrol pada penyandang DM tipe 2 rawan memicu komplikasi, di antaranya serangan jantung, stroke, infeksi kaki berat (gangren) hingga amputasi, gagal ginjal hingga disfungsi seksual.

Luluk menjelaskan, secara garis besar DM ada 2, yaitu tipe 1 dan tipe 2, dimana tipe 2 mendominasi sekitar 90 persen kasus. DM tipe 2 disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, misalnya doyan makan banyak sehingga gemuk dan kurang olahraga.

Indikator penanda untuk mengetahui apakah gula darah terkontrol bisa dilihat dari dalam tes darah. Ada tiga tes darah yang dapat dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang menderita prediabetes atau diabetes tipe 2.

Tes gula darah puasa (GDP)

Tes ini bertujuan untuk memeriksa kadar gula darah di saat keadaan perut kosong. Kadar gula darah pasien dinilai normal jika masih di bawah 100 mg/dL, dan dianggap sudah mengalami prediabetes jika kadarnya berkisar antara 100–125 mg/dL. Jika kadar gula darah mencapai 126 mg/dL atau lebih, berarti pasien sudah menderita diabetes tipe 2.

Tes toleransi glukosa oral (2 jam PP)

Setelah pasien menjalani tes gula darah puasa, pasien akan diminta untuk mengonsumsi minuman gula khusus dan kembali melakukan pemeriksaan gula darah setelah 2 jam meminum larutan gula tersebut. Kadar gula darah dikatakan normal jika hasil tes menunjukkan kurang dari 140 mg/dL, dan baru dianggap memasuki kondisi prediabetes jika hasil tes berkisar antara 140–199 mg/dL. Sedangkan hasil tes yang menunjukkan kadar gula 200 mg/dL atau lebih menandakan pasien sudah menderita diabetes tipe 2.

Tes hemoglobin A1c (HbA1c)

Tes darah ini bertujuan untuk mengetahui kadar rata-rata gula darah dalam 3 bulan terakhir. Tes ini dilakukan dengan mengukur persentase gula darah yang melekat pada hemoglobin, yakni protein pembawa oksigen yang ada dalam sel darah merah. Dalam tes ini, dikatakan normal jika kadar HbA1c berada di bawah 5,7%. Kondisi pradiabetes jika kadar HbA1c berada pada kisaran 5,7–6,4%, dan sudah dianggap menderita diabetes tipe 2 jika kadar HbA1c mencapai 6,5% atau lebih.

“Pada tes gula darah HbA1C menjadi penanda yang baik, karena bisa menunjukkan apakah gula darah berfluktuasi selama 2-3 bulan.Jadi kalau kadar gula darah tidak normal akan ketahuan dengan HbA1C. Gula darah normal biasanya di bawah 5,7 persen, pradiabetes di atas normal 6 persen atau diabetes di atas 6 persen,” beber apoteker yang mengambil master farmasi di Tasmanian University, Australia.

Bila target gula darah tidak tercapai, hal ini bisa menjadi masalah. “Bila kadar gula darah tinggi tidak bisa dipindah ke sel maka akan terjadi pengerasan pembuluh darah sehingga menjadi rapuh. Darah akan keluar mengakibatkan kaki atau tubuh jadi biru-biru, lalu banyak sel yang mati dan bernanah.Jadi pembuluh darah kecil-kecil yang ada di organ tubuh akan mengalami komplikasi,” Kepala Program Studi (Kaprodi) S1 Farmasi Stikes Medistra Indonesia, Bekasi, Jawa Barat.

Ada sejumlah tanda yang bisa dikenali saat seseorang terkena DM, di antaranya mudah lelah, cepat merasa lapar karena sel tidak terdapat glukosa sebagai sumber energi, gampang mengantuk. Luluk menjelaskan, sebagai pengganti glukosa biasanya tubuh akan mengompensasi lemak tubuh sebagai sumber tenaga. “Jika hal ini berlangsung dalam durasi lama, maka lambat laun penyandang DM menjadi kurus,” ujarnya.

Gejala lainnya adalah penyandang DM sering buang air kecil dan haus. “Bila gula terlalu banyak pasti akan keluar juga dari ginjal. Namun karena kadar gulanya terlalu tinggi, maka akan menarik  air terus kemudian dikeluarkan. Inilah mengapa DM juga disebut dengan penyakit kencing manis,” ungkapnya.

Terapi DM Tipe 2

Pada kasus pradiabetes (kadar gula darah tinggi namun belum masuk kategori DM), umumnya bisa diatasi dengan mengatur makanan, olahraga, menurunkan berat badan bagi yang kegemukan, hindari konsumsi alkohol. “Biasanya pradiabetes yang memiliki garis keturunan DM akan diresepkan obat,” tutur Luluk.

Sedangkan bagi penyandang yang sudah terdiagnosis DM akan diberikan obat oral (minum) disertai dengan mengontrol asupan makanan, termasuk aktivitas sehari-hari, sehingga penderita DM bisa mengelola kadar gula darahnya.

Luluk menekankan, penting bagi penyandang diabetes untuk mencari dokter yang baik dan komunikatif karena diabetes ini butuh sekali komunikasi untuk mencari keseimbangan sehingga dapat mengontrol gula darah.

Terkait konsumsi obat herbal sebagai pendampingan pada penyandang DM, menurut Luluk tidak masalah. “Silakan minum obat herbal, tapi beri tahu dokter obat herbal yang dikonsumsi apa, jadi target kontrol gula darah bisa tercapai,” ujarnya.

Tak kalah penting adalah kelola stres. Memang diabetes tidak bisa disembuhkan, sama halnya dengan hipertensi, namun penyandang DM tetap bisa menikmati hidup berkualitas dengan mengontrol kadar gula darah. “Jika minum obat oral tidak mampu mengontrol gula darah, dokter mungkin akan mempertimbangkan suntik insulin,” papar Luluk.

Luluk berpesan agar penyandang DM mengawasi asupan karbohidrat yang memang rentan menaikkan kadar gula darah. “Kurangi makanan yang tinggi karbohidrat terutama saat makan malam, lebih baik diganti dengan protein dan sayur, serta kurangi makanan yang berlemak,” tegasnya. (evi)