JAKARTA, ITN- PERSOALAN stunting di Indonesia sudah terjadi sejak 40-50 tahun lalu. Di beberapa daerah, bahkan ada kasus stunting yang mengenai tiga generasi, dari kakek/nenek, bapak/ibu, dan anak.

Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM, Dr dr Damayanti tengah menangani kasus stunting di Pandeglang. Dikembangkan pencegahan dan penanggulangan stunting berporos Posyandu dan RSUD. Aksi cegah stunting berupa deteksi dini dan tatalaksana bila ada weight faltering.

“Dilakukan skrining stunting di Posyandu, lalu dikirim ke Puskesmas. Bila benar stunting, dirujuk ke RSUD untuk ditangani,” ujar Dr dr Damayanti saat ditemui pada acara MilkVersation Hari Gizi Nasional – Investasi Pangan Hewani, Stunting, dan Upaya Selamatkan Generasi Mendatang di Jakarta, Rabu (23/1/19).

Untuk menilai apakah seorang anak stunting atau tidak, tinggi badan (TB) dan BB harus dikur dengan benar. Untuk anak usia <2 tahun, TB diukur dalam posisi berbaring, dan pada usia >2 tahun berdiri. TB diukur dari puncak kepala hingga tumit; kaki, tubuh dan kepala anak harus benar-benar lurus. Untuk mengukur BB, pakaian anak harus dibuka agar hasilnya akurat. Selanjutnya, nilai TB dan BB dimasukkan ke grafik, dan akan terliht bagaimana pertumbuhan anak. Disebut stunting bila pertumbuhannya -2 sampai -3, dan stunting berat bila di bawah -3.

Lingkar kepala juga harus diukur. Dan bila dicurigai stunting, bisa dilakukan pemeriksaan rontgent tangan, untuk memastikan diagnosis.

Kader Posyandu dilatih untuk bisa mengukur tinggi badan (TB) dan BB anak dengan benar. Masalahnya, Posyandu tidak memiliki alat pengukur TB, sehingga harus dipinjamkan oleh Puskesmas. Ini salah satu kendala yang dijumpai tim Dr dr Damayanti di lapangan.

Kendala berikutnya, begitu anak ditemukan stunting melalui skrining di Posyandu lalu dirujuk ke Puskesmas, muncullah masalah pembiayaan. “Mereka tidak punya BPJS,” ungkap Dr dr Damayanti. Masalah ini akhirnya diselesaikan dengan dana desa.

Masalahnya tidak berhenti di sana. Di Puskesmas, anak yang dicurigai stunting diperiksa lagi apakah betul ia mengalami stunting. Bila anak dikonfirmasi mengalami stunting, selanjutnya akan dirujuk ke RSUD. Lagi-lagi, terkendala BPJS. Diupayakan menggunakan SKTM, namun membutuhkan rekening bank tertentu. Sedangkan untuk membuka rekening, keluarga perlu menyediakan Rp50.000. Bagi masyarakat di daerah tersebut yang tingkat ekonominya rendah, dana sebesar itu tidaklah kecil. Hal ini akhirnya berhasil dibereskan, tapi kendala-kendala seperti ini harus dibenahi agar penanganan kasus stunting bisa lebih baik lagi.

Dr dr Damayanti menganjurkan pemberian sumber pangan hewani seperti susu atau telur 1 butir/hari untuk mencegah maupun mengatasi stunting. Dengan perbaikan nutrisi, termasuk pemberian susu, kasus stunting di desa tersebut berhasil diturunkan. “Di awal, stunting ditemukan sebesar 17%. Setelah tiga bulan, membaik jadi 9%,” ungkap Dr dr Damayanti.

Upaya mencegah dan mengatasi stunting membutuhkan kerjasama berbagai pihak. Tidak hanya tenaga medis dan akademisi, tapi juga berbagai pemangku kepentingan. Orangtua pun harus memantau tumbuh kembang anak, dengan rutin membawa anak ke Posyandu untuk diukur TB, BB, dan lingkar kepalanya.

Kesadaran untuk melek gizi juga perlu mulai diperkenalkan pada calon pengantin. Sebelum menikah, calon pengantin menjalani edukasi pra pernikahan. “Pengetahuan tentang nutrisi untuk mencegah stunting bisa disisipkan dalam sesi tersebut,” ujar Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS, Ketua PERGIZI Pangan menambahkan pada kesempatan yang sama.

Calon ibu yang teredukasi mengenai nutrisi akan memberikan nutrisi yang baik bagi anaknya kelak. “Memang sasaran kami adalah calon ibu dan ibu-ibu muda,” tambah Prof Hardinsyah. (evi)