JAKARTA, ITN – MEMPERTAHANKAN suatu bisnis yang sudah berdiri sama sulitnya dengan saat membangun bisnis itu sendiri, bahkan ada yang mengatakan juga mempertahankan lebih sulit dari pada meraihnya. Tidak sedikit sebuah bisnis yang telah sulit di rintis namun berujung kepada kegagalan setelah bertahun-tahun berjalan.

Tentunya siapapun tidak ingin mengalami hal yang demikian, apalagi di era sekarang ini banyak keluarga menjalankan bisnisnya demi menghidupkan perekonomiannya. Dalam sebuah bisnis keluarga yang di bangun secara bersama-sama, pastinya hasil perjuangan saudara terdahulu akan menjadi sia-sia jika pada ahirnya bisnis tersebut tidak berhasil bertahan.

Bisnis keluarga berarti akan terdiri dari beberapa orang yang berjuang menjalankan, serta keuntungan yang di dapat pun akan menjadi milik bersama. Dengan demikian tanggung jawab untuk mempertahankannya pun menjadi kewajiban bersama.

Melihat hal tersebut Universitas Prasetiya Mulya memberikan cara yang baik dalam menjalankan bisnis keluarga dengan menggelar seminar bertema ‘Next Generation Embracing Technological Changes’ menghadirkan Pramodita Sharma, Professor & Daniel Clark Sanders Chair dalam bidang Entrepreneurship & Family Business (Bisnis Keluarga) di Grossman School of Business, Universitas Vermont, USA.

Selain itu, beberapa grup bisnis yang ternama Indonesia seperti Salam Subakat dari Wardah, Noni Purnomo dari Blue Bird Group, dan Teresa Wibowo dari Kawan Lama Group.

Rektor Universitas Prasetiya Mulya Prof Djisman Simandjuntak menargetkan peserta dari acara tersebut adalah pelaku bisnis keluarga baik generasi pertama atau kedua, akademisi dan mahasiswa.

“Tujuannya untuk menyampaikan dan memberikan masukan terhadap perkembangan bisnis keluarga di Indonesia, baik dari sisi akademisi maupun praktisi. Semoga di Indonesia dengan adanya norma hukum dan keluarga, perusahaan bisnis bisa berjalana pesat,” ujar Prof Djisman disela acara seminar di Auditorium Universitas Prasetiya Mulya, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (25/7/19).

Ia pun berharap adanya kegiatan ini dapat berlangsung secara berkesinambungan dapat menciptakan kolaborasi pengetahuan.

“Pengusaha-pengusaha di Indonesia harus tumbuh jauh lebih pesat. Karena bisnis keluarga memiliki poin lebih, seperti jika perusahaan mengalami krisis dan keluargalah yang bersama-sama menanggung,” ujarnya lebih lanjut.

Sementara sebagai narasumber, Professor & Daniel Clark Sanders Chair dalam bidang Entrepreneurship & Family Business di Grossman School of Business, Universitas Vermont Pramodita Sharma mengatakan, bahwa perusahaan bisnis di Indonesia mengacu pada perusahaan di Eropa yang telah berdiri lama dan berhasil.

“Berdirinya perusahaan atau bisnis keluarga dengan baik, karena bisa saling berintegrasi. Pengusahanya juga terlihat lebih muda dan enerjik dibandingkan dengan negara Eropa,” katanya.

Di sisi lain, dunia industri revolution 4.0 banyak yang beranggapan bahwa dunia bisnis menuju kehancuran, padahal treadmen seperti ini adalah salah besar. Padahal, kehadiran dunia industri revolution 4.0 menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pariwisata.

“Industri paling subur adalah pariwisata, baik itu ticketing, perjalanan, destinasi, perhotelan, memang megah yang bintang-bintang, selain berbintang ada bisnis perhotelan yang kecil seperti homestay. Jadi tantangan kita adalah bagaimana pelaku usaha pariwisata kita elevated standart internasional,” tambah Dekan Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya Prof Agus W Soehadi.

Diakuinya, melalui homestay bisa dimanfaatkan dengan best practice telekomunikasi, service kebersihan, hingga service pelayanan yang nantinya bisa disejajarkan dengan dunia perhotelan. Otomatis membuat wisatawan kian memiliki banyak pilihan dalam berwisata.

“Seharusnya upaya pemerintah jangan dibatasi pada infrastruktur fisik melainkan pada pelatihan kultur layanan, hygine, tepat waktu dan mestinya univesitas juga turut serta pada pleyanan yang menarik,” ungkapnya.

Baginya, kehadiran industri digital tidak membuat pariwisata semakin lemah, melainkan bisa menjadikan bisnis pariwisata semakin hidup bertumbuh dengan pesat. Kesalahan tentu ada pada siklus bisnis itu sendiri.

“Digital revolution akan memakan banyak lowongan kerja di dunia industri, maka waktu luang bertambah dan permintaan akan jasa pariwisata semakin naik. Dari pariwisata berbasis hedonisme ke pariwisata yang lebih reflektif atau pariwisata cultural dan itu harus dipelajari dengan baik,” jelasnya.

Menurutnya, pariwisata harus menjadi bagian sehingga bisa dijual kepada wisatawan, di mana dunia digital mendorong industri pariwisata di Indonesia semakin dikenal. Apalagi, Indonesia sangat unggul di bidang geografi yang luar biasa di Asean.

“Indonesia pantas diposisikan sebagai lokasi pariwisata yang besar di dunia tetapi jangan terperangkap dalam hedonisme itu sendiri. Tak itu saja, pelaku sumber daya manusia bisa diaplikasikan ke dalam digital, di mana kultur bisa didesain dengan baik. Sebelum datang ke Indonesia harus tahu soal kultur Indonesia,” tutupnya. (evi)