JAKARTA, ITN– PELUANG bisnis di bidang industri kecantikan masih sangat besar, mengingat pangsa pasar di Indonesa yang menggiurkan, yakni 267 juta jiwa, dengan demografi populasi wanita mencapai 130 juta jiwa dan sekitar 68 % nya merupakan usia wanita produktif.

Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) 2018 mencatat, perkembangan industri kosmetik nasional mengalami kenaikan pertumbuhan 20% atau empat kali lipat dari pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2017. Fakta ini tentunya menggiurkan. Namun, menjadi beautypreneur sukses, apalagi dengan brand sendiri, tidak semudah berjualan kacang goreng. Butuh kiat-kiat khusus agar brand dan produk bisa diterima pasar dengan baik. Dari nol menjadi luar biasa, seperti halnya Irvyn Wongso pemilik brand Innertrue yang merupakan salah satu dari klien Nose (PT Nose Herbalindo).

Kemunculan brand Innertrue tersebut tak lepas dari bantuan perusahaan jasa pembuatan kosmetik atau disebut maklon kosmetik, Nose Herbalindo.

Irvyn Wongso terjun menjadi beautypreneur lewat brand Innertrue. Sebelumnya pria berusia 41 tahun ini telah berbisnis produk peralatan musik, namun tertarik untuk terjun ke bisnis kosmetik yang diakuinya menawarkan peluang bisnis yang menjanjikan.

Irvyn Wongso bersama istri yang juga menjadi rekan bisnisnya. (Foto itn/evi)

Sebagai beautypreneur, Irvyn memang terbilang baru, karena baru memulai bisnis ini di tahun 2017. “Dua tahun lalu, saya baru mulai bisnis Innertrue. Saat itu, saya masih coba-coba dan riset bersama Nose untuk mendapatkan produk yang tepat dengan formula yang tepat. Saya investasi miliaran rupiah untuk R&D (Research and Development) ini,” ujar Irvyn saat ditemui Indonesiatripnews.com dalam bincang-bincang bersama media di ajang Cosmo Beaute 2019 di JCC, Jakarta, Sabtu (19/10/19).

Mengutip data riset ekonomi UOB Indonesia yang dirilis tahun ini, ada empat konsumsi utama millennial Indonesia, dan 50% pendapatan millennial dihabiskan untuk empat jenis konsumsi yang disebut “Gaya Hidup 4S” mencakup Sugar (makanan dan minuman), Skin (perawatan tubuh dan kecantikan), Sun (liburan dan hiburan), dan Screen (konsumsi layar digital).

 Irvyn mengatakan, “Sebagai pebisnis saya mengembangkan industi di bidang kecantikan ini. Bisnis ini merupakan perusahaan saya yang kelima,” ungkapnya.

“Saya dulu orangnya cuek banget sama perawatan, ketika masuk usia ke- 40 muka saya gampang sensitif, jerawat, dan setelah dipelajari ternyata lapisan kulit kita sudah tergerus polusi dan radiasi. Ketika saya mencoba produk-produk di Indonesia sampai ke luar negeri dengan harga yang mahal, yakni satu cream Rp5 juta tak ada yang cocok, akhirnya memutuskan untuk membuat produk sendiri,” ujarnya lebih lanjut.

Baru, di Agustus 2019, Irvyn resmi meluncurkan Innertrue dengan lima varian produk, antara lain serum, toner, cleansing gel, essence, dan gel cream. Produk tersebut dijual mulai dari harga Rp100 ribuan hingga Rp220 ribu. Dengan positioning “Smart Skincare for Smart People”, Innertrue menyasar segmen perempuan dan pria berusia 20-40 tahun.

Innertrue tidak menggunakan bahan-bahan kimia, mengurangi risiko iritasi bagi pengguna. (foto itn/evi)

“Smart Skincare for Smart People, biasanya produk yang ada di luar sana menawarkan sebuah produk untuk kulit berminyak, kulit kering, dan kulit sensitif. Namun di Innertrue justru produk ini yang akan meyesuaikan dengan kulit kita,” jelasnya.

Innertrue memilih menggunakan formula mosseltech dari ekstrak tumbuhan lumut yang mampu membuat kulit menjadi mudah beradaptasi. Selain itu, formula mosseltech mengandung zat anti blue ligth yang memancarkan radiasi, contohnya sinar handphone.

Smart skincare berbahan alami yang dapat beradaptasi degan kebutuhan kulit dan lingkungan, serta yang pertama memiliki fitur anti blue light radiation.

Irvyn menambahkan, “Saat ini, Innertrue sudah dipasarkan melalui eCommerce seperti Shopee dan Tokopedia, serta melalui reseller Innertrue yang telah tersebar di seluruh Indonesia”.

“Kami sudah memiliki 40-50 reseller yang telah kami seleksi. Mereka kebanyakan anak-anak SMA, mahasiswa, hingga ibu tumah tangga,” ungkapnya.

Melalui sistem reseller ini, Irvyn juga memiliki misi untuk membantu tingkat perekonomian masyarakat Indonesia. Mengingat, dengan bergabung sebagai reseller Innertrue, mereka bisa memperoleh penghasilan tambahan.

Dengan bergabung sebagai reseller Innertrue, mereka bisa memperoleh penghasilan tambahan. Dengan investasi awal Rp3 juta (mendapat 4 set produk) tiap reseller mendapatkan margin 30% dari harga jual. “Kami disiplin menjaga harga agar tidak terjadi obral yang malah mengorbankan margin reseller. Rata-rata omset reseller mencapai hingga Rp60 juta per bulan. Ini lumayan besar dan membantu meningkatkan pendapatan mereka,” paparnya.

Ke depan, salah satu misi Innertrue adalah menyejahterakan para reseller. Oleh karena itu, sampai akhir tahun ini, ia ingin menambah reseller Innertrue. “Saat ini, sudah ada 300 reseller yang belum di-approve. Sampai akhir tahun ini, kami akan menargetkan 70 reseller,” jelas Irvyn.

Untuk mengenalkan produk secara lebih luas, Innnertrue menggunakan beauty influencer Sulha dan  Tasya Farasya. “Instagram tentunya bukan hanya jualan produk namun juga mengedukasi konsumen,” ujar Irvyn

Hasilnya, sejak dirilis, Innertrue mendapat respon positif dari pasar. “Bahkan, ini di luar ekspektasi kami. Produk yang harusnya untuk stok enam bulan, sudah habis dalam kurun waktu satu bulan,” tutup Irvyn. (evi)