JAKARTA, ITN- Masa Pandemi COVID-19 di Indonesia tidak menyurutkan customer untuk melakukan pembelian/belanja. Kenyataannya menurut desainer Indonesia Fashion Chamber (IFC), Hannie Hananto, “Pasar itu sangat menarik“.

“Belum ada survei khusus tentang hal ini tetapi pada saat customer di rumah saja dengan tetap mengakses sosmed, mereka melakukan pembelian mulai dari produk makanan, produk interior dan produk fashion,” ungkapnya.

Menurutnya disini terjadi “New Lifestyle Images”, meskipun tidak terjadi interaksi langsung dengan customer tetapi terjadi penjualan (Lifestyle online ini sudah dirasakan sebelum Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan lebih terasa saat PSBB).

Awal ketika wabah corona pertama kali diumumkan oleh pemerintah kaget, namun Hannie langsung mengambil tindakan awal dengan tiga solusinya, yakni yang pertama, menyiapkan infrastruktur penjahit.  “Kami menduga kasus ini bakalan lama dan akan mengubah semua sistem oleh karena itu kami siap dengan kondisi penjahit melanjutkan pekerjaan di kampungnya (Sumedang) jadi sistemnya bahan baku dan gambar dikirim ke Sumedang selesai pekerjaan jahit kirim balik ke Jakarta (kalau bahan baku print di dapat di Jakarta) masalah banyak terjadi terutama karena jarak,” ujarnya.

Koleksi Hannie Hananto saat bulan Ramadhan

Solusi kedua, pada saat itu ada event yang jadi tertunda “Femme Makassar“. Event Maret diundur ke Juli hingga waktu belum pasti, padahal saat itu ia telah menyiapkan banyak stock dress dan hijab untuk bazaar dan acara Fashion Shownya.  Hanni memikirkan bagaimana cara menjual stock yang banyak tanpa harus diskon besar-besaran mengingat stock baru.

Cara berjualan online secara langsung di sosmed menjadi pilihannya. “Disini saya fokus di IG belajar dari video-video kaum milenial di Tiktok. Berani langsung membuat video review produk koleksi di IG story dan di Feed IG Anemone (brand kami) dan responnya positif karena langsung mendekatkan desainer dan customernya, sehingga ada interaksi ada pembelian,” ungkapnya.

Solusi ketiga yang dilakukan Hannie Hananto, yakni pada saat masker langka dan beberapa jenis masker tertentu hanya boleh dikenakan oleh tim medis dan masyarakat umum disarankan mengenakan masker dari kain. “Pada saat itu saya belum membuat masker kain, malah mengenakan masker buatan mbak Hendri dan Mas Philip IFC Jogja, lalu timbul ide membuat masker yang sesuai dengan gaya desain saya kemudian di cocokan dengan motif hijab dan motif dress juga dan di share di Instagram dan Alhamdulilah responnya postif,” jelas Hannie.

“Bagaimana cara kita membentuk ‘image baru’ dari desain kita itu ‘penting’ perlu kepekaan/responsif membaca apa yang lagi ‘hype’,” tegasnya.

Untuk langkah kedepan, trend ini menurutnya akan berjalan terus dan berubah setiap saat
Tidak ada yang tetap di dunia ini yang tetap adalah ‘perubahan itu sendiri’. Yang perlu dilakukan kedepan adalah amati, peka, dan responsif terhadap perubahan. (evi)