JAKARTA, ITN- Setelah tahun lalu Banyuwangi melaunching Calender of Event (CoE) sebanyak 99, tahun 2020 jumlah event bertambah menjadi 123 event.

“Festival bagi Banyuwangi adalah instrumen untuk menggerakkan banyak orang. Festival atau event wisata tak hanya jadi ajang untuk menarik wisatawan. Yang tak kalah penting adalah bagaimana event wisata bisa memberi dampak nyata bagi masyarakat Banyuwangi,” ujar Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas pada peluncuran CoE bertema Majestic Banyuwangi Festival di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kemenpar, Rabu (8/1/2020).

“Dampak pengembangan pariwisata, pendapatan rakyat meningkat. Banyuwangi 48 juta per orang per tahun sekarang,” ujar Anas.

Menurutnya dari 123 evet pariwisata yang digelar, tiga diantaranya, yakni Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival, dan International Tour de Ijen masuk dalam Top CoE Pariwisata Nasional.

“Ada 30 atraksi yang belum pernah digelar pada tahun-tahun sebelumnya. Banyak event yang benar-benar fresh untuk memberi pengalaman baru bagi wisatawan. Sebagian diantaranya diinisiasi oleh warga Banyuwangi, sehingga berbasis warga benar-benar terus kami dorong agar pembangunan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Banyuwangi bisa makin inklusif,” ungkapnya.

Festival Gandrung Sewu. (Foto dok Komunitas Indonesia Trip (KIT)/Shamira.

Salah satu atraksi baru yang bakal digelar antara lain kopi di sejumlah sentra penghasil kopi, tak lagi berpusat di Desa Adat Kemiren seperti tahun-tahun sebelumnya. Perkebunan Kalibiru misalnya, akan digelar atraksi minum kopi langsung di kebunnya.

“Perkebunan Kalibiru merupakan sentra kopi yang rutin mengekspor ribuan ton kopi ke Italia dan berbagi negara di Eropa,” ujar Anas.

Tak hanya itu Anas mengatakan, “Banyuwangi juga akan menghadirkan 15 festival kuliner diantaranya Chocholate Food Festival, Muncar Food Festival, Bamboo Food Festival, Alaspurwo Food Festival, Cacalan Beach Food Festival, Marina Food Festival, Osing Food Festival, hingga Millennials Food Festival.

Di setiap ajang Banyuwangi Festival juga dihadirkan berbagai stan kuliner. Sektor kuliner dengan sendirinya menyatu dalam event atraksi tari, fesyen, sport tourism, dan sebagainya. Misalnya, Festival Gandrung Sewu, menyajikan kuliner rakyat yang otomatis membuat kuliner Banyuwangi kian terkenal dan menyejahterakan pelaku usaha setempat.

Senada dengan Anas, Menparekraf Wishnutama Kasubandio juga memuji capaian Banyuwangi dalam sektor pariwisata. Tak hanya berhasil menghadirkan event pariwisata yang banyak dan berkualitas, Banyuwangi juga jadi contoh keberhasilan pariwisata dalam memajukam masyarakat setempat.

“Inilah yang namanya pemerintah daerah yang punya positif impact. Sehingga semua juga bergerak ke arah yang positif,” puji Wishnutama.

Terkait event wisata, Wishnutama berharap agar Banyuwangi terus menghadirkan event berkualitas. Walau tidak masuk destinasi prioritas, tapi Wishnutama akan tetap membantu pariwisata di Banyuwangi semaksimal mungkin.

“Saya berharap event-event di Banyuwangi makin bagus, dikemas makin sempurna. Kalau bisa sekalian kita bikin yang spektakuler,” tutup Wishnutama.

Banyuwangi Festival 2020 juga menghadirkan 15 ajang spot tourism diantaranya Banyuwangi International Geopark Walk yang menyusuri pesona Taman Nasional Alas Purwo; World Surf League (WSL) di Pantai Plengkung yang merupakan jang selancar paling begengsi di dunia; serta Internasional Tour de Banyuwangi Ijen yang menurut Federal Sepeda Dunia (UCI) sebagai event balap sepeda terbaik di Indonesia. (evi)