JAKARTA, ITN- Kegiatan ekspor atau mengirim barang ke negara lain memang belum begitu akrab di telinga pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM). Minimnya informasi tentang kondisi pasar luar negeri, rumitnya mengurus perizinan ekspor, dan modal yang cukup besar merupakan sejumlah penghalang yang menghambat pelaku UKM untuk mengeskspor barang.

“Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus mendorong ekspor Usaha Kecil dan Menengah (UKM), salah satunya dilakukan melalui program pengembangan UKM ekspor Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN),” ujar Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Kemendag, Marolop Nainggolan, dalam webinar bertajuk ‘Inginkah Produk Anda Mendunia?’ yang digelar netralnews.com, Kamis (18/11/2021).

Marolop mengatakan, “Kementerian Perdagangan dalam programnya memberikan beberapa kegiatan, memberikan dukungan kepada para pelaku UKM untuk bisa masuk ke pasar ekspor”.

Ada lima poin program pengembangan UKM ekspor yang dilakukan Kemendag dalam mendukung para pelaku UKM agar produk yang dipasarkan bisa mendunia.

Pertama, soal sertifikasi dan pengembangan produk. Dalam hal ini, Kemendag memfasilitasi UKM berorientasi ekspor yang ingin mendapatkan sertifikasi akan produk-produk usahanya. Sertifikasi yang difasilitasi, seperti Sertifikasi Keamanan Pangan, Sertifikasi Standar atau Pelabelan, dan Sertifikasi Kekayaan Intelektual.

“Sebenarnya yang lebih banyak berperan itu pelaku UKM. Apa yang dilakukan tentu inisiasinya harus berasal dari pelaku UKM itu sendiri. Kami (Kemendag) hanya memberikan dukungan, memfasilitasi untuk hal-hal yang bisa dilakukan. Katakan misalnya untuk sertifikasi dan pengembangan produknya, itu bisa dibantu oleh pemerintah,” ujarnya.

Menurutnya salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan produk oleh pelaku UKM ekspor, yakni soal desain produk atau kemasan.

“Tentu dalam perdagangan di dunia ini, apa yang bisa kita jual? Uniqueness apa dari produk kita, apa yang unik dari yang kita siapkan? Baik itu produk maupun jasa, apa yang unik dari kita punya?” ucap dia.

“Tentu desain misalnya itu menjadi suatu hal yang penting. Kalau desain atau kemasan produk kita tidak sesuai dengan preferensi pasar, tentu kita akan kalah bersaing,” sambungnya.

Dalam hal ini, Marolop menyampaikan pemerintah melalui beberapa kementerian dan lembaga terus melakukan pengembangan desain produk UKM agar sesuai dengan kebutuhan pasar di negara tujuan ekspor.

“Kita bisa mendapatkan fasilitas ini dari kementerian dan lembaga yang ada di Indonesia, dari Kemendag, dari Kemenparekraf juga ada. Jadi silahkan saja kalau nanti bapak/ibu (pelaku UKM) memang sudah dilihat ini kepentingannya mengenai misalnya desainnya yang kurang, apakah cocok atau tidak masuk ke pasar sana (negara tujuan ekspor), itu bisa dibantu,” paparnya.

Lebih lanjut Marolop menjelaskan, “Ambil contoh saja misalnya menjual cangkir. Cangkir ke Amerika dan cangkir ke Jepang itu pasti berbeda. Desain ke Jepang pasti akan berbeda dengan desain ke Amerika Serikat. Karena masyarakat Jepang punya preferensi sendiri soal bagaimana desain dari produk itu. Begitu juga dengan Amerika. Kita bisa membantu untuk bagaimana produk itu sesuai dengan pasarnya”.

Kedua, pemasaran dan promosi. Menurut Marolop pemerintah terus meningkatkan pemasaran produk UKM, salah satunya melalui keikutsertaan dalam pameran. Namun demikian, pelaku UKM agar memperhatikan keunikan dan keunggulan dari produk yang ingin dipasarkan, agar menarik konsumen saat dipamerkan.

“Banyak pameran yang bisa kita siapkan  Namun perlu juga pelaku UKM sadari bahwa memasuki pameran tidak sekedar berpameran, perlu ada persiapan yang matang. Ketika melakukan pameran dagang Internasional, tentunya (produk UKM Indonesia) bersaing dengan produsen dari produk serupa dari seluruh dunia. Ketika produk yang kita pamerkan tidak berada di atas, tentu orang lain tidak akan melihat produk kita,” tuturnya.

“Karena itu harus ada yang unik. Namanya pameran dagang, yang dipamerkan itu harus ada sesuatu yang baru yang bisa memeberikan suasana baru agar mendapat perhatian yang lebih besar dari konsumen tempat kita berpameran. Itu kami bisa siapkan, bisa disiapkan oleh pemerintah,” terangnya.

Ketiga, informasi pasar. Marolop mengatakan pentingnya pelaku UKM memahami dan mengikuti perkembangan terkini di negara tujuan ekspor. Terkait hal itu, Kemendag menyediakan banyak layanan pendukung akses pasar ekspor bagi pelaku UKM.

Marolop mengatakan, “Informasi pasar. Setiap produk ada pasarnya, tapi kemana pasarnya?. Ketika kita ingin menjual suatu produk, kita harus tau di mana tempatnya, maka akan lebih baik ketika mengetahui seperti apa pasar melihat produk kita”.

“Kami dari Kementerian Perdagangan khusunya, menyiapkan konsultan bisnis, market brief, market intelligence yang bisa digunakan,” ungkap Marolop.

Keempat, pengembangan SDM ekspor. Kemendag, kata Marolop, menyediakan pelatihan dan coaching program untuk SDM Ekspor. Ada lembaga yang bisa menyiapkan para calon eksportir. Ada yang berbayar, ada yang gratis.

Terakhir kelima, kerja sama ekspor. “Kami bekerja sama dengan berbagai lembaga di dunia untuk mengembangkan produk ekspor kita,” tegas Marolop.

Meski pemerintah mendukung dan memfasilitasi lewat berbagai program pengembangan UKM ekspor, namun yang paling berperan dalam hal ini adalah pelaku UKM itu sendiri.

“Sebenarnya yang lebih banyak berperan itu pelaku UKM. Apa yang dilakukan tentu inisiasinya harus berasal dari pelaku UKM itu sendiri. Kami (Kemendag) hanya memberikan dukungan, memfasilitasi untuk hal-hal yang bisa dilakukan,” tutup Marolop.

Selain penjelasan Marolop pada webinar yang mendapat dukungan dari Bank Syariah Indonesia (BSI), BRI, Briefer, SuperKiosk, Cohive, Inaproduct dan Alfamart ini juga menghadirkan narasumber pelaku UKM yang membagikan pengalamannya mengekspor barang ke luar negeri, yakni Steven Stenly (Entrepreneur Muda) dan Patricia Nataly (pelaku UMKM dan Owner CV Wita Hara Kirana). (evi)